ANALISIS PENOKOHAN DAN ALUR PADA NOVEL-NOVEL INDONESIA

Posted: 4 Juli 2010 in sastra

LATAR BELAKANG
Menganalisis karya fiksi merupakan salah satu cara untuk memahami dengan jelas apa yang terkandung di dalam karya itu sendiri. Karena bagaimanapun juga, karya fiksi merupakan proses pemikiran seorang pengarang yang belum tentu dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca apa maksud yang disampaikannya. Dengan menganalisisnya, kesalahpahaman maksud yang ditujukan dari pengarang kepada pembaca tentu dapat dihindari. Sehingga suatu karya fiksi akan dapat dinikmati dengan mengutamakan tujuan adanya karya fiksi itu sendiri.
Untuk menghindari pembahasan supaya tidak melebar, oleh karenanya pembahasan kali ini hanya dibatasi perihal penokohan dan alur yang ada di dalam suatu karya fiksi. Penokohan dan alur merupakan salah satu cara yang digunakan pengarang untuk memberi kesan menarik pada karyanya. Oleh karena itu, saya selaku penganalisis memilih kedua hal tersebut.

PEMBAHASAN

1. PENOKOHAN

Penokohan Dan Hubungannya Dengan Tema Dan Setting Cerita

Penokohan merupakan salah satu faktor terpenting dalam sebuah cerita fiksi. Setiap karya fiksi otomatis terdapat tokoh di dalamnya. Terdapat dua macam jenis tokoh dalam setiap karya fiksi menurut keterlibatannya terhadap karya fiksi itu sendiri, yaitu tokoh utama (sentral) dan tokoh penunjang (periferal) (Sayuti, 2009:6.6). Cara menentukan yang mana tokoh utama dan yang mana tokoh penunjang adalah dengan membandingkan setiap tokoh di dalam cerita. Adapun kriteria tokoh utama adalah: bertindak sebagai pusat pembicaraan dan sering diceritakan, sebagai pihak yang paling dekat kaitannya dengan tema cerita, dan lebih sering melakukan interaksi dengan tokoh lain dalam cerita (Sayuti, 2009:6.6). Seperti pada kutipan di awah ini:
Tiba-tiba tampak olehnya pisau belati di sisi Mansur. Darahnya berdebar-debar dan gusarnyapun timbul kembali. Tak percaya ia akan janji saudaranya tadi. Sebab itulah berkata ia: “Kakak, pisau itu baiklah Minah sembunyikan. Minah sebenarnya belum begitu percaya. Hendaklah kita awas sebelum terjadi!”
Mansur tak mengeluarkan kata sepatah juapun.
Laminah mengambil pisau belati itu dari pinggang saudaranya dan diletakannya di bawah bantal.
Tokeh pada ketika itu sedang makan. Mansur dan Laminah menunggu dimuka pintu dapur.
(STA. Tak Putus Dirundung Malang. Hlm. 128)

Dari kutipan di atas kita bisa menilai bahwa tokoh utamanya adalah Mansur. Kenapa? Karena Mansur merupakan inti pembicaraan di atas. Potongan cerita tersebut ada setelah terjadi perselisihan antara Mansur dengan salah satu pegawai di tempat ia bekerja. Mansur hendak memberi pelajaran kepada orang tersebut, karena ia telah berbuat macam-macam terhadap adiknya. Jadi, sangat jelas inti permasalahnnya ada pada Mansur sendiri. Ia menjadi pusat pembicaraan pada potongan cerita tersebut dan umumnya pada novel tersebut.

Cara Penggambaran Tokoh
a. Metode Diskursif
Artinya penggambaran tokoh dijelaskan secara langsung oleh pengarang. Dengan cara menyebutkan ciri-cirinya, sifat-sifatnya, status, dan sebagainya, tanpa melinatkan tokoh lain. Seperti yang terdapat pada kutipan Novel Sekali Peristiwa Di Banten selatan:
Dua orang pemikul singkong, yang hendak menuju ke tempak truk-truk dari kota memunggah singkong, muncul dari tikungan jalan. Bawaannya begitu beratnya sehingga pikulan mereka Nampak melengkung. Kedua-duanya bercelana hitam sedikit di bawah lutut. Mengikatkan sarung pada pinggang masing-masing dan bertopi capio, sedang pada pinggang mereka tersandang kasang dari bambu anyaman.
(hlm. 12)

b. Metode Dramatis
Artinya penggambaran tokoh dijelaskan tidak secara langsung dari pengarang, melainkan dengan cara berbicara tokoh itu sendiri, perbuatannya, pemikiran tokoh lain yang bersangkutan, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui potongan cerita di bawah ini:
Jimbron yang tambun dan invalid—kakinya panjang sebelah—terengah-engah di belakangku. Wajahnya pias. Dahinya yang kukuh basah oleh keringat, berkilat-kilat. Di sampingnya, Arai, biang keladi seluruh kejadian ini, lebih menyedihkan. Sudah dua kali ia muntah. Ia lebih menyedihkan dari si invalid itu. Dalam situasi apapun, Arai selalu menyedihkan. ………………………………………………………………………………………………………………….
(Andrea Hirata. Sang Pemimpi. Hlm. 2)

Pengarang berusaha menggambarkan tokoh lain dalam cerita melalui tokoh “Aku”. Sangat jelas disebutkan bahwa keadaan fisik salah satu temannya—Jimbrong—tidak sepertihalnya orang normal. Salah satu kakinya melebihi panjang kakinya yang lain. Selain itu, ia juga menjelaskan watak tokoh lainnya—Arai. Ia bisa menyimpulkan bahwa temannya yang ini selalu terlihat selalu tegang dan ketakutan ketika dalam keadaan tersudutkan. Dibuktikan melelui tindakannya yang muntah ketika dalam keadaan tersudutkan.

c. Metode Campuran
Artinya penggambaran tokoh menggunakan dua cara sekaligus, secara langsung dari pengarang itu sendiri ataupun melalui tokoh lain. Hal tersebut bisa dicermati pada kutipan di bawah ini:
… Mbok Ralem keluar sambil membopong anaknya yang pucat dan batuk. Perempuan itu terkejut melihat siapa yang datang. Darah lenyap dari wajahnya, bibirnya bergetar. Pambudi duduk di balai-balai bambu.
“Mob Ralem, kau tak perlu takut seperti itu.”
“Anu, anu… anu, Nak.”
“Anu apa, Mbok?”
“Aku takut kau membawa perintah dari Lurah untuk menghukumku. Kemarin dulu sebelum aku meninggalkan Balai Desa kudengar Pak Lurah marah-marah. Pastilah gara-gara aku, bukan?”
(Ahmad Tohari. Di Bawa Kaki Bukit Cibalak. Hlm. 29)

Dari kutipan di atas kita bisa melihat bagaimana pengarang menggunakan kedua metode dalam menggambarkan tokohnya. Metode yang pertama yaitu, Metode Diskursif. Hal tersebut dapat diketahui melalui potongan cerita langsung dari pengarang, “Perempuan itu terkejut melihat siapa yang datang. Darah lenyap dari wajahnya, bibirnya bergetar”, yang menunjukan keadaan Mbok Ralem yang takut akan kedatangan Pambudi. Keadaan tersebut diperkuat dengan dialog yang terjadi antara Pambudi dan Mbok Ralem sendiri yang menyatakan kalau Mbok Ralem sedang ketakutan. Artinya, pengarang merasa kurang puas ketika hanya menggambarkan kondisi tokoh di dalam ceritanya melalui tuturannya secara langsung. Pengarang mencoba menyakinkan bagaimana keadaan tokoh dalam ceritanya dengan menggunakan pandangan atau pemikiran tokoh lain dalam cerita tersebut.

Perwatakan tokoh biasanya terikat pada tema dan setting cerita dalam sebuah karya fiksi. Jika ceritanya bertemakan perjuangan zaman penjajahan, otomatis tokoh protagonisnya juga akan berwatak seorang pejuang yang penuh semangat, pembarani, memiliki pemikiran matang dan progresif. Begitupun sebaliknya, tokoh antagonisnya pun tentu bersifat lebih berani dan lebih kejam dari pada cerita-cerita fiksi yang bertemakan romantisme. Jika tema dan settingnya tentang kehidupan sehari-hari yang lebih cenderung menitikberatkan pada segi romantisme, tokoh pada karya fiksinya juga berwatakkan sepertihalnya orang-orang baik pada umumnya (stereotip), ramah tamah, suka menolong. Dan sebaliknya pula, tokoh antagonisnya akan lebih lemah kadar keantagonisannya jika dibandingkan dengan tokoh antagonis pada karya fiksi yang bertemakan perjuangan. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan novel berikut ini:
“Ya. Tetapi kita mesti menang.”
“Belanda berkata begitu pula. Tidak bisakah didapat penyelesaian yang lain? Di mana kita dan Belanda sama-sama menang?”
“Maksudmu?”
“Penyelesaian kalah dan menang untuk sesuatu pihak bukan penyelesaian yang sebenarnya. Itu hanya penyelesaian sementara. Sementara yang kalah tetap lemah dari yang menang. Tetapi jika yang kalah telah merasa kuat lagi untuk melawan, pasti dia akan bangun dan tegak dan melawan kembali. Dan semua akan berulang kembali, hingga ada pula yang menang dan yang kalah. Tidak bisakah didapat penyelesaian di mana kedua belah pihak menang? Maksudku kemenangan nilai-nilai manusia. Kemenangan pikiran dan perasaan manusia. Kemenangan manusia melawan nafsu kasar dirinya sendiri. Kemenangan kebaikan melawan kejahatan.”

(Mochtar Lubis. Tidak Ada Esok. Hlm. 180-181)

Pernyataan mengenai keterikatan tokoh dengan tema juga dapat dilihat pada Novel Laskar Pelangi. Suasana yang ada pada novel tersebut adalah suasana perjuangan dalam hal pendidikan. Itu dibuktikan dengan pernyataan tokoh utama “Aku” yang menggambarkan rasa semangat teman-temannya dalam hal pendidikan, seperti pada kutipan di bawah ini:
Pada kesempatan lain Lintang mempresentasikan percobaan memunculkan arus listrik dengan menggerak-gerakkan magnet secara mekanik dan menjelaskan prinsip-prinsip kerja dinamo. Mahar memperagakan cara membuat sketsa-sketsa kartun dan cara menyusun alur cerita bergambar. Lintang menjelaskan aplikasi geometri dan aerodinamika dalam mendesain layangan, Mahar menceritakan kisah yang memuakau tentang bangsa-bangsa yang punah. Pernah juga Lintang menyusun potongan-potongan kaca yang dibentuk cekung seperti parabola dan menghadapkannya ke arah matahari agar mendapatkan suhu yang sangat tinggi, rancangan energi matahari katanya.
Sebaliknya Mahar tak mau kalah, ia menggotong sebuah meja putar dan mendemonstrasikan seni membuat gerabah yang indah, teknik-teknik melukis gerabah itu dan mewarnainya. Lintang memperagakan cara kerja sekstan dan menjelaskan beberapa perhitungan matematika geometris dengan alat itu, Mahar membaca puisi yang ditulisnya sendiri dengan judul Doa dan dibawakan secara memukau dengan gaya tilawatil Qur’an, belum pernah aku melihat orang membaca puisi seperti itu.

(Hlm. 141-142)

Aktifitas yang dilakukan teman-teman Ikal menunjukan bahwa mereka sangat bersemangat dalam menuntut ilmu. Keadaan ekonomi dan sebagainya tidak mempengaruhi keseriusan mereka. Bahkan, mereka bisa membuktikan kalau mereka juga bisa seperti anak-anak lain yang lebih beruntung dalam hal menuntut ilmu. Lintang dengan kemampuan dalam bidang eksaknya, Mahar dalam bidang seni dan sastranya mampu membuka mata pembaca bahwasannya keadaan ekonomi tidak mempengaruhi semangat belajar mereka.
Kutipan kedua novel di atas menjelaskan bahwa tokoh protagonis adalah tokoh yang tidak mengenal sifat-sifat yang dimiliki tokoh antagonis. Tokoh-tokoh protagonisnya bersifat sepertihalnya pahlawan menurut konteks temanya masing-masing, tokoh utamanya pada khususnya. Memang terlihat wajar ketika berbicara tentang karya fiksi. Akan tetapi, hal tersebut berkesan berlebihan jika melihat realita yang ada.
Lain halnya dengan kedua novel di atas, Novel Kubah karya Ahmad Tohari justru memberi kesan lain terhadap tokoh utamanya. Karman—tokoh utama dalam Novel Kubah—memang memiliki sifat yang baik. Akan tetapi, pada bagian tertentu ia berubah seolah-olah menjadi tokoh antagonis. Sifatnya mudah terpengaruh, emosional, dan pendendam. Hal tersebut dibuktikan dengan potongan cerita di bawah ini:
“Paman, aku tak mungkin berbaik kembali dengan Haji Bakir, bukan karena hanya soal Rifah. Masih banyak alas an lagi bagiku untuk bersikap seperti itu.”
“Lho… Kenapa?”
“Karena bersikap baik terhadap haji itu sudah tak perlu lagi. Kalau Haji Bakir merasa telah berbuat kebajikan padaku, ia telah memperoleh kembali imbalan yang lebih.”
(Hlm. 96)

Dialog tersebut terjadi antara Karman dan Hasyim, pamannya. Ketika itu Karman merasa telah dibodohi oleh Haji Bakir. Ia merasa diperalat olehnya. Selain itu, ia juga harus menerima kenyataan bahwa Rifah (anak Haji Bakir)—perempuan yang ia cintai—dijodohkan dengan pria lain. Pada saat itu ia juga sedang dihasut oleh pemikiran-pemikiran PKI supaya tidak mempercayai orang-orang seperti Haji Bakir, yang pada dasarnya merekalah yang menghasut Karman. Sehingga Karman akhirnya memutuskan untuk membenci Haji Bakir dan keluarganya. Pembaca seolah-olah bertanya-tanya, “Masa tokoh utama ikut bergabung dan mengembangkan faham PKI yang ditentang bangsa kita? Masa tokoh utama pendendam, dan sebagainya?”
Sebenarnya, pada saat itulah pengarang menggunakan sisi kewajarannya dalam memberi perwatakan terhadap tokoh utama pada novel yang dimaksud. Ia seperti berpesan kepada pembaca bahwa manusia juga memiliki kekhilafan, tidak melulu benar. Artinya, sifat antagonis sementara tokoh utamanya terjadi karena ia memiliki sifat mudah dipengaruhi. Atau mungkin bisa saja pengarang sengaja menjadikan tokoh utama berkesan seperti tokoh antagonis untuk menjadikan konflik yang ada menjadi lebih menarik dan tidak bisa ditebak oleh pembaca. Sehingga memancing emosi pembaca untuk mengetahui lanjutan ceritanya.
Hal yang sama juga digunakan oleh STA dalam karya fiksinya yang berjudul Tak Putus Dirundung Malang. Pada beberapa bagian ceritanya, ia memberi kesan lain terhadap Mansur, tokoh utama dalam karya fiksi tersebut. Seperti pada potongan cerita berikut ini:
Seketika diam ia. Terasa olehnya, bahwa perkataannya itu tak keluar dari sanubarinya. Sebab itulah ia berkata pula: “Tetapi sebaik-baiknya orang yang seruapa itu diajar benar-benar sampai ia jera untuk seumur hidupnya. Jangan ia menyangka, bahwa di dunia ini semuanya dapat dikerjakannya sekehendak hatinya. Cobalah lihat! Kalau didiam-diamkan, sedikit hari lagi semuanya itu diulangnya pula, tak pada kita, pada orang lain.”
(Hlm. 126-127)

Keadaan tersebut terjadi ketika Laminah (adik Mansur) diperlakukan tidak wajar oleh Sarmin, salah seorang pekerja di tempat ia bekerja. Mendengar adiknya diperlakukan demikian, Mansur hendak memberi pelajaran terhadap Sarmin. Padahal adiknya melarangnya untuk melupakan hal tersebut. Kondisi tersebut tentu mejadikan pembaca memberi apresiasi negatif terhadap Mansur, meskipun ia bertindak sebagai tokoh utama. Mansur seolah-olah berubah menjadi seorang yang pendendam dan hendak memutuskan suatu perkara tanpa memperhitungkannya terlebih dahulu. Tentunya sifat demikian sangat kontras dengan sifat seorang tokoh protagonis. Akan tetapi, pengarang mampu menjadikan pertentangan sifat tokoh protagonis tersebut menjadi gambaran mengenai konflik batin yang dialami tokoh utamanya.

2. ALUR/PLOT

Penggunaan Alur Sebagai Permainan Olah Pikir

Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas. Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir (Sayuti, 2000). Akan tetapi, dalam kenyataannya alur dalam sebuah karya fiksi disusun berdasarkan pilihan pengarang itu sendiri. Oleh karena itu, awal alur tidak harus merupakan awal cerita. Tergantung bagaimana pengarang memposisikan dan memainkannya.
1. Awal
Bagian awal dari sebuah alur biasanya merupakan bagian pengenalan cerita. Biasanya berisikan mengenai pengenalan watak tokoh dan setting cerita yang bersifat Eksposisi dan element instabilitas (Sayuti, 2009:7.8). Sepertihalnya potongan cerita dalam sebuah karya fiksi di bawah ini:
Langit bermendung.udara berwarna kelabu. Dari jarak dekat, pegunungan di depan desa itu, yang dirimbuni berbagai pepohonan hutan, berwarna kelabu hitam. Antara sebentar terdengar cericip burung kedinginan. Kadang-kadang angin menderu keras membawa bunyi sayup deburan Laut Hindia. Gemericik air kali membanjir yang membanting diri di antara batu-batu gunung besar tak henti-hentinya menggema, serta hempasan arus derasnya pada tebing-tebing yang terbuat dari beton alam antara sebentar terdengar menjompak-jompak ngilu.
(Pramoedya Ananta Toer. Sekali Peristiwa Di Banten Selatan. Hlm. 11)

Dari kutipan cerita di atas sangat jelas sekali bahwa pengarang membuka cerita dengan terlebih dahulu memaparkan setting yang ada pada cerita tersebut. Pengarang memberikan informasi kepada pembaca bahwasannya seperti itulah keadaan Banten Selatan pada saat itu. Akan tetapi, tidak ada unsure instabilitas di dalamnya. Karena pembuka cerita tersebut hanya bersifat memaparkan sesuatu yang pasti, tentunya tidak memiliki kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi.
Lain halnya dengan karya fiksi di atas, karya fiksi Pram yang lain, Larasati justru menggunakan konflik cerita sebagai pembukanya. Berikut adalah contoh kutipannya:
Setelah mendapat tempat di pojok, kapten itu mendekatkan bibirnya pada kupingnya, berbisik perlahan penuh perasaan, “Aku memang banyak bersalah, Ara.” Ia tak begitu yakin akan suaranya.
Mulutnya kian didekatkan dan suaranya dikeraskan, “Tapi kau pun bukan terkecuali. Kau juga banyak bersalah padaku.”
(Hlm. 7)

Pembuka cerita di atas menjelaskan mengenai sebagian konflik yang dialami tokoh utama, Ara. Sang opsir berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua. Kemudian dilanjutkan usaha sang opsir meyakinkan Ara supaya ia tidak melupakan terhadap apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Padahal Ara sudah memberikan kesan muak terhadap orang tersebut. Konflik batin dalam diri Ara digunakan pengarang sebagai awal cerita. Pada awal cerita inilah elemen instabilitas muncul, dimana aka nada kemungkinan lain yang terjadi, Ara akan terus mengingat akan tokoh opsir atau justru melupakannya.

2. Tengah
Tengah cerita berisikan konflik di dalamnya. Dari penyebab konflik sampai puncak dari konflik tersebut. Akan tetapi, penyebab konflik juga terkadang ditempatkan diawal cerita bagian akhir. Hal tersebut digunakan untuk memberi kesan keterikatan antara awal cerita dengan bagian tengahnya, sehingga tidak berkesan tidak nyambung. Konflik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu konflik batin (tokoh dengan dirinya sendiri), konflik sosial (tokoh dengan tokoh lain), dan konflik alamiah (tokoh dengan alam dan lingkungan sekitar) (Sayuti, 2009:7.10). Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan tengah cerita berisikan pengenalan mengenai setting, watak tokoh, dan penyebab konflik utama. Semua itu tergantung bagaimana cara pengarang memainkan alur.
Untuk memberikan penjelasan mengenai tengah cerita yang tidak melulu berisikan konflik. Berikut adalah dua kutipan cerita yang memiliki perbedaan isi pada cerita bagian tengahnya:
“Ah,” jawab Laminah dengan suara yang sedih, “sekarang semuanya itu Minah serahkan pada ikhtiar kakak; kalau begini rasanya takkan sanggup lagi Minah tinggal di negeri Ketahun ini. Dari pada hidup dengan serupa ini, umpan kaki tangan orang setiap hari, pada perasaan Minah, lebih baik mati sekali …”
(STA. Tak Putus Dirundung Malang. Hlm. 61)
Dalam wilayah Kecamatan Kokosan, desa Pegaten letaknya paling terpencil. Di sebelah selatan terdapat hutan jati yang luas. Sementara bagian barat dibatasi perkebunan karet dan rawa-rawa. Tanah sawah serta ladangnya subur. Kalaulah sebagian penduduknya hidup miskin, pastilah bukann keadaan tanah Pegaten yang menyebabkannya. …
(Ahmad Tohari. Kubah. Hlm. 122)

Kedua kutipan di atas memberikan penjelasan mengenai perbedaan isi tengah ceritanya. Novel Tak Putus Dirundung Malang berisikan mengenai konflik yang terjadi antara tokoh utama Karman dan Minah dengan pamannya, Madang. Konflik itu terjadi ketika perlakuan Madang terhadap mereka semakin hari semakin keras. Sehingga mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah pamannya itu dan hendak mencari tempa tinggal lain. Sementara Novel Kubah, pada tengah ceritanya terdapat potongan cerita yang masih menggambarkan bagaimana keadaan kampungnya, Pegaten. Penjelasan singkat itu kemudian menjadi awal untuk masuk ke dalam konflik yang ada di dalamnya.

3. Akhir
Akhir cerita merupakan bagian penyelesaian semua konflik yang ada di dalam karya fiksi. Pada bagian akhir pula biasanya dapat disimpulkan sebuah karya fiksi tersebut merupakan karya yang bersifat happy ending atau tidak. Selain itu, pada akhir juga biasanya pengarang memberikan penggambaran kembali mengenai settingnya, yang tentunya telah mengalami perubahan akibat konflik yang ada. Atau terkadang berisi kesimpulan mengenai tema yang diceritakan.

Penggunaan alur merupakan salah satu hal yang sangat menentukan apakah cerita itu menarik atau tidak. Cerita-cerita yang menarik biasanya menggunakan alur yang beragam dan posisinya acak. Sehingga pembaca harus memutar otak kembali untuk mengait-kaitkan antara konflik yang satu dengan konflik yang lain, antara penyebab konflik dengan penyelesaiannya, dan sebaginya. Hal tersebut biasanya menjadikan pembaca merasa bingung jika pengarang tidak pintar-pintar meramunya menjadi sesuatu yang menarik tapi mudah dicerna. Karena bagaimanapun juga karya sastra dinilai bagus atau tidak tergantung penilaian pembaca dan penikmatnya.


Daftar Pustaka

Alisjahbana, Sutan Takdir. 2008. Tak Putus Dirundung Malang. Jakarta: Dian Rakyat.
Hirata, Andrea. 2008. Sang Pemimpi. Jakarta: Bentang.
Sayuti, Suminto A. 2009. Cerita Rekaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Toer, Pramoedya Ananta. 2009. Larasati. Jakarta: Lentera Dipantara
____________________ 2009. Sekali Peristiwa Di Banten Selatan. Jakarta: Lentera Dipantara.
Tohari, Ahmad. 2005. Kubah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
____________ 2005. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Komentar
  1. [...] The busiest day of the year was November 3rd with 131 views. The most popular post that day was ANALISIS PENOKOHAN DAN ALUR PADA NOVEL-NOVEL INDONESIA. [...]

  2. mickey mengatakan:

    mas tolong jelaskan huungan alur dan penokohan, dan tahapan alur itu apa saja.

  3. Dindaa Dindott mengatakan:

    makasih yya :D membantu banget dah :*

  4. jumra mengatakan:

    mksih …………..

  5. N putra yodha mengatakan:

    analisis novel sang pemimpi dong ..
    semua nya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s