Sinopsis Novel Di Kaki Bukit Cibalak

Posted: 4 Juli 2010 in sastra

- Judul : Di Kaki Bukit Cibalak
– Pengarang : Ahmad Tohari
– Tahun : Cetakan ketiga, Agustus 2005
– Tebal buku : 176 hlm.
– Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, JakartaAhmad Tohari

Ringkasan Cerita

Novel ini menceritakan mengenai kecurangan-kecurangan politik di sebuah desa, Tangir namanya. Berawal dari penggambaran Kaki Bukit Cibalak, dimana tempat tersebut dulunya sangat alami, dan syarat akan suasana pedesaan kemudian berubah menjadi suasana yang kacau, bising kendaraan bermotor dan traktor-traktor pembajak sawah, dan sebagainya.
Setelah itu terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam bidang politik, ketika salah satu calon lurah menggunakan cara kotor agar dapat memenangkan dirinya menjadi seorang lurah di daerahnya. Dari situlah sosok Pambudi muncul sebagai tokoh yang sangat menentang adanya tindakan kotor tersebut.
Pambudi yang terpojokkan karena adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas, merasakan keresahan: di desa yang sekecil Tanggir, di tengah infrastruktur yang seminim di Tanggir, dihadapkan pada pilihan yang sesedikit di Tangir. Tak pelak lagi, kota menjadi tanah terjanji bagi Pambudi si anak desa. Pertama kali Pambudi menunjukkan keberhasilannya di kota melalui kecakapannya. Dia merangkul sebuah harian lokal untuk mencari dana pengobatan tetangganya yang mengidap kanker. Semenjak itulah Pambudi sangat disegani dan dihormati karena kebaikan luhur budinya.
Kejadian tersebut membuat Pak Dirga—lurah Desa Tanggir—merasa terusik dan berusaha untuk menjatuhkan nama seorang Pambudi. Ia menebarkan berita kalau Pambudi menyelewengkan dana koperasi. Akan tetapi, Pambudi tetap tenang dalam mengatasi persoalan tersebut. Ia lebih memilih mengikuti anjuran orang tuanya untuk pergi ke kota atau kemanapun, yang penting jauh dari Desa Tanggir. Apapun yang ia lakukan disana terserah, yang penting ia lekas pergi dari desanya yang banyak menyimpan kepahitan. Dan dia pun berhasil hidup tenang di Yogya. Setelah lama berada di Yogya ia memutuskan untuk kuliah atas anjuran temannya. Selain kuliah, ia juga bekerja pada Harian Kalawarta yang pernah menerimanya. Ia hidup dengan tenang di Yogya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum ia sempat pulang kembali ke Tanggir.
Sejak saat itulah ia kembali bertemu dengan Mulyani—anak gadis mantan majikannya dan adik kelasnya di kampus. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi kisah cinta antara mereka berdua. Pambudi hendak meminangnya sebagai istrinya.

Komentar
Novel ini sangat bagus sekali. Kepiawaian pengarang dalam menggambarkan setting sangat terlihat, sehingga pembaca seperti dibawa masuk ke dalam suasana yang ada pada novel ini. Hal menarik lain yang terdapat dalam novel ini adalah ciri khas pengarang yang selalu membawa adat daerahnya. Pembaca terkesan seperti diposisikan sebagai turis yang hendak dikenalkan, “Ini budaya di daerah saya”. Alur yang digunakan adalah alur maju. Selain itu, penggambaran watak tokoh juga dijelaskan secara detil dengan menggunakan banyak cara. Konflik yang terjadi bersifat variatif, dan keseluruhan konflik tersebut menguatkan watak tokoh utama yang tegar. Akan tetapi, konflik-konflik yang bersifat variatif tersebut tetap tidak keluar dari permasalahan utama novel ini, yaitu kebengisan Lurah Dirga.

Komentar
  1. Kabul RKM mengatakan:

    Bagus Mas apresiasinya

  2. Hesta Anggia mengatakan:

    kox cerittanya beda sama di buku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s