Sinopsis Novel Tidak Ada Esok

Posted: 4 Juli 2010 in sastra

- Judul : Tidak Ada Esok
– Pengarang : Mochtar Lubis
– Tahun : Cetakan Ketiga, 1989
– Tebal buku : 226 hlm.
– Penerbit : Pustaka Jaya

Ringkasan Cerita
Novel ini menceritaakan tentang perjuangan seorang tokoh Johan ketika masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, dan paska kemerdekaan. Berawal dari penggambaran setting yang sangat piawau dilakukan oleh pengarang. Tokoh Johan bersama pasukan lainnya hendak mengepung para penjajah di sebuah hutan. Kegelisahannya mulai terasa ketika pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan.
Setelah tau musuh tidak jadi lewat di daerah yang mereka tunggui, mereka beristihat membentuk sebuah perkumpulan, dimana seorang-seorang saling bercerita tentang pengalaman masing-masing. Johan yang kala itu menceritakan pengalamnnya bertemu bertemu dengan seorang gadis. Pengalaman itu baginya sangat berarti. Dari situlah kisah cintanya dengan perempuan itu timbul.
Kemudian ia hendak pergi ke Kota Yogya, ke rumah temannya. Di sana ia bersama dengan teman lainnya masuk ke dalam organisasi masing-masing, ada yang masuk sebagai tentara, sebagai Laskar Rakyat, dan sebagainya. Sedangkan ia sendiri masuk Peta pada tahun 1944. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat kuat, ia dinilai sangat bagus.
Kemerdekaan pun tiba, saat itulah ia merasa telah tenang. Akan tetapi ketenangannya itu kembali harus terusik setelah kedatangan kembali Belanda untuk menghancurkan bangsa Indonesia. Pada saat itu Johan bertindak sebagai pembawa laporan dari para pejuang yang hendak dilaporkan kepada kantor pusat.
Pada pertempuran paska kemerdekaan itulah banyak dari temannya yang gugur. Kematian teman-temannya menjadi dasar pemikirannya untuk merenungi, untuk apa ada pertempuran, pertumpahan. Ia akhirnya menyadari semua itu adalah sebuah pengorobanan.

Komentar
Novel ini merupakan novel yang sangat bagus. Pengarang seperti menceritakan tentang sejarah bangsa Indonesia pada zaman penjajahan sedetil mungkin. Penggambaran tersebut dilakukan dengan bermacam-macam cara, seperti kisah langsung tokoh utama dan cerita-cerita dari tokoh lainnya dalam novel ini. Penggambaran watak tokoh kurang begitu detil. Lain halnya dengan penggambaran setting yang dijelaskan sedetil mungkin, tempatnya, suasananya, dan sebagainya, seperti pada saat menggambarkan keadaan pasar malan Rakutenchi. Selain itu, pengarang juga banyak menyisipkan kalimat-kalimat yang merupakan pemikiran filsafatnya mengenai kehidupan dan kemanusiaan. Konflik yang terjadi dijelaskan dengan wajar. Berbeda dengan konflik batin yang terjadi antara ia dengan tokoh Ifah dalam cerita tersebut. Mereka bisa saling menerima meskipun pemikiran mereka saling berbanding terbalik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s