Posts Tagged ‘Emha Ainun Nadjib’


Tahajjud Cinta
Emha Ainun Nadjib (Ainun) dilahirkan di Mentro, Sumobito, Jombang, Jawa Timur pada Rabu Legi 27 Mei 1953 sebagai putera ke-4 dari 15 bersaudara, dari suami istri H. A. Lathif dan Halimah. Riwayat pendidikannya acak-acakan: setamat sekolah dasar di desanya ia melanjutkan studi di Pondok Modern Gontor. Pada 1968 setelah mathrud (diusir) dari Pondok Modern Gontor, ia menempuh ujian di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta, lalu melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Di sekolah ini ia sempat keluar lalu masuk lagi sampai tamat. Kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi UGM, tetapi hanya selama 4 bulan. Secara formal, ia berhenti studi, tapi ia tidak berhenti menuntut ilmu. Dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris dan Arab, ia banyak membaca dan menguak mengenai kitab kuning dan referensi-referensi para sarjana Barat.
Ainun pernah bekerja sebagai wartawan dan redaktur (seni budaya, kriminalitas, dan universitaria) harian Masa Kini Yogyakarta selama 3 tahun, menjadi redaktur tamu di harian Bernas selama 3 bulan. Selain, itu ia pernah menolak tawaran dari salah satu majalah terkemuka negeri ini maski dengan tawaran yang menggiurkan. Termasuk juga tawaran dari Jakarta, ia tolak. Karena tidak pernah memikirkan perihal karir, istrinya (Suryaningsih) pernah meminta cerai meskipun telah memiliki anak (Mawa Damar Panuluh). Ia lalu menduda dengan alasan: “Mungkin karena perkawinan adalah dunia yang amat serius, meskipun kita bisa jalani dengan tertawa dan pura-pura tidak stress, atau mungkin karena saya beklum cukup tahu ‘nasib perkawinan’ yang akan saya jalani.”
Hingga penelitian ini dilakukan, Ainun tinggal di rumah kontrakan di bilangan Paatangpuluhan, sebuah rumah sederhana dan wingit. Dari rumah kontrakan itu paling tidak 6 tulisan lahir selama seminggu dan secara rutin dimuat di Surabaya Post, Jawa Post, Berita Nasional, Yogya Post, suara Merdeka, dan Suara Karya. Tulisannya yang menggigit dan bernada humor dimuat di Tempo, Kompas, Suara Pembangunan, Kedaulatan Rakyat, Salam, Amanah, Panji Masyarakat, Kiblat, Matra, dan sebagainya. Bentuk tulisannya meliputi puisi, artikel sastra budaya, cerpen, naskah drama dan lain-lain.
Ainun pernah mengikuti berbagai kegiatan di luar negeri seperti International Program Writing di Lowa City Amerika Serikat (1981), Workshop teater di PETA Philipina, International Poetry Reading di Rotterdam Belanda (1984), Festival Horizonte III di Berlin Barat (1985), dan mengembara di beberapa negara Eropa selama satu setengah tahun lebih.
Penghasilan Ainun dimanifestasikan untuk menciptakan lapangan kerja melalui Bengkel Motor Markesot di Yogya, peternakan ayam di jalan Kaliurang, dan beberapa bentuk kegiatan di Jombang. Serta mengelola dua yayasan yaitu Yayasan Pengembangan Masyarakat Al Muhammadi dan Yayasan Ababil.
Karya-karya Ainun meliputi M. Frustasi di terbitkan dalam bentuk sederhana sekali pada 1975 oleh Pabrik Tulisan, Sajak-sajak Sepanjang Jalan memenangkan sayembara penulisan puisi Tifa Sastra UI tahun 1977, Tak Mati-mati dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 1978, Tuhan Aku Berguru KepadaMu dipuisi-musikkan bersama Teater Dinasti di TIM pada 1980, 99 untuk Tuhanku dibacakan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1982, Nyanyian Gelandangan dibacakan bersama Gruo Musik Teater Dinasti di Taman Budaya Surakarta 1982, Isra’ Mi’raj yang Asyik dibacakan di UGM Yogyakarta pada tahun 1986. Selain itu masih banyak lagi, antara lain Kanvas (belum terbit), Syair Istirah (Masyarakat Poetika Indonesia, 1986), Tidur yang Panjang (belum terbit), Syair-syair Indonesia Raya (belum terbit), Syair Perubahan (belum terbit), Cahaya Maha Cahaya (LP3S, 1988 dan Pustaka Firdaus 1991), Suluk Pesisiran (Mizan, 1988), Lautan Jilbab (Yayasan Al Muhammady, 1989 dan SIPRESS, 1991), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1991), Imam Perubahan (belum terbit), Minuman Keras Nasibku (belum terbit), Syair-syair Asmaul Khusna (belum terbit), Syair Lembu (belum terbit).
Kumpulan cerpen Ainun diterbitkan oleh SIPRESS yang berjudul Yang Terhormat Nama Saya. Naskah dramanya yang berjudul Geger Wing Ngoyak Macan pernah dipentaskan di beberapa kota bersama Teater Dinasti. Naskah drama lainnya yaitu Lautan Jilbab yang merupakan saduran dari puisinya. Naskah-naskah drama lainnya yaitu Sidang Para Setan (1977), Patung Kekasih (1983), Calon Drs. Mul (1984), Mas Dukun (1986), Keajaiban Lik Par (1987), Mas Kanjeng (1990), Santri-santri Khidir (1991), dan Perahu Retak (1991).
Sebagai seorang penulis esei, untuk pertama kalinya Ainun mengumpulkan sejumlah eseinya dalam Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (Jatayu, 1983). Kumpulan esei ini berisikan 29 karya Ainun tentang sosio-budaya dengan diberi pengantar oleh YB Mangunwijaya dan ditambah tulisan Hadjid Hamzah tentang Ainun. Karya esei Ainun yan lain adalah Sastra yang Membebaskan (1985), Dari pojok Sejarah; Renungan Perjalanan (1986), Ikut Tidak Lemah Ikut Tidak Melemahkan (1986), Gerakan Punakawan (1991), dan Slilit Sang Kyai (1992).

Sumber: Jabrohim. 2003. Tahajjud Cinta Emha Ainun Nadjib; Sebuah Kajian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.