Banyak orang pintar di dunia ini, di sekitar kita lebih spesifiknya. Pada dasarnya dunia ini tentu membutuhkan banyak orang pintar, terutama di Indonesia, sepertinya. Tapi, itu bukan berarti semua orang pintar berguna bagi semua orang. Dengan kata lain, kepintaran seseorang tidak menjamin seseorang tersebut dapat berguna dalam suatu tatanan kemasyarakatan. Apa iya?

Begini saja, lupakan sebentar pernyataan saya di atas, saya ingin memberikan sedikit contoh, dan tentunya Anda sendiri dapat memberi kesimpulan menurut sudut pandang Anda. “Di suatu desa kecil terdapat satu orang lulusan master (apapun itu) dari suatu perguruan tinggi. Oleh warga ia dianggap sebagai yang paling pintar di antarawarga lainnya, mungkin karena ia satu-satunya yang mampu menempuh taraf pendidikan tinggi. Ketika ia berjalan melewati sebuah jalan dan di tengah jalan terdapat batu kecil tapi cukup membahayakan pengguna kendaraan jika melindas batu tersebut. Si master itu tahu kalau ada batu tersebut di tengah jalan, tapi ia tidak berusaha memindahkan batu tersebut (mungkin karena ia menganggap batu itu tidak berbahaya atau ia sedang terburu-buru itu urusan belakangan). Lalu, seorang lain (entah itu pedagang keliling, tukang becak, pengamen, dan sebagainya) juga melewati jalan itu dan melihat batu tersebut di tengah jalan. Sesegera mungkin ia memindahkannya. Yang ia pikirkan hanya kalau-kalau batu itu menyebabkan kecelakaan meskipun ringan, atau batu itu terpental ke suatu arah hingga melukai atau merugikan orang lain. Pertanyaannya adalah pihak manakah yang paling berguna terhadap lingkungan sekitar jika dilihat cerita tersebut?

Cerita di atas hanya sebuah gambaran kecil betapa orang yang pintar secara teoritis, titel, konseptual, dan lain sebagainya tidak melulu berguna bagi masyarakat. Karena di dunia ini, khususnya di Indonesia, yang kita butuhkan bukan lagi orang pintar (saya berpendapat sudah terlalu banyak orang pintar di Indonesia), melainkan orang yang memiliki kesadaran baik itu pada taraf yang tinggi atau ringan sekalipun.

Kesadaran, bagaimanapun bentuknya, akan berharga demi kelangsungan hidup kita bersama. Itulah kenapa di dunia nyata, kita tidak membutuhkan superhero semacam the Avengers, Spiderman, Superman, dan kawan-kawannya yang mencoba menyelamatkan dunia dengan jurus-jurusnya. Tapi, sejatinya modal utama dari para seuperhero tersebut adalah kesadaran bahwa mereka harus menyelamatkan dunia dengan caranya masing-masing. Intinya, kita tidak butuh berbagai macam jurus untuk menyelamatkan dunia (secara spesifik lingkungan kita), kita hanya butuh kesadaran secara naluri tentang apa yang harus kita lakukan. Dan itu banyak caranya, man! Dari hal-hal kecil saja lah, seperti mematikan keran agar air tidak terbuang percuma, mematikan lampu ketika dirasa sudah terang dan tidak dibutuhkan, menyingkirkan kerikil dari tengah jalan, berkendara perlahan ketika melewati kubangan, dan hal-hal kecil lainnya yang mungkin kita anggap tidak penting.

Ini bukan persoalan penting tidak penting, harus tidak harus, ini persoalan bagaimana kita menyikapi lingkungan sekitar kita. Kalau saya, memilih untuk menjadi orang bodoh yang memiliki kesadaran itu lebih baik dari pada menjadi orang pintar yang tidak memiliki kesadaran. Pilihan terbaik tentunya menjadi orang pintar yang memiliki kesadaran. So, Anda memilih di posisi yang seperti apa?!

Mengidolakan Dengan Cara Sehat

Posted: 6 April 2015 in Opini
Tag:, ,

Inspirator, idola, panutan, atau apapun namanya, terkadang sangat ironis, bahkan menuju ke tingkat yang teramat sangat… membahayakan. Terlebih di era modern ini di mana seorang penggemar, penganut, pemuja, dan sebagainya dapat dengan mudah mengikuti segala bentuk informasi terkini dari seseorang yang diidolakannya. Misalkan seorang penggemar bisa selalu tahu aktifitas keseharian idolanya melalui jejaring sosial seperti twitter, facebook, instagram, dan lain sebagainya. Sarana teknologi yang semakin mutakhir tersebut tentu berbalik lurus dengan kecintaannya terhadap idolanya. Simpelnya ya seperti sebuah lirik lagu yang berbunyi tak kenal maka tak sayang (dengan kata lain semakin kenal semakin sayang, meskipun tidak melulu seperti itu).

Permasalahannya, apakah semua yang dilakukan oleh idolanya adalah sesuatu yang bersifat baik? Bagaimana kalau ternyata buruk? (tetap harus digarisbawahi bahwa kita tetap harus memegang teguh bahwa baik atau buruknya bergantung pada situasi). Hal tersebut memunculkan permasalahan lain yang lebih kongkrit jika sudah mengacu pada titik yang biasa kita sebut dengan fanatisme, “baik dan buruk urusan belakangan, yang penting idolaku tetap nomor satu.” Ah, wake up man!

Kita ambil contoh yang paling kongkrit yaitu mengenai presiden Jokowi (wah, berat!). Tenang, saya hanya mengambil garis secara umum, jadi tidak akan mengacu pada segi yang sensitif. Bagi seorang pendukung fanatik Pak Jokowi, keputusan, ucapan, dan tindakan beliau mengenai apapun, akan selalu dinilai benar. Tentunya itu berlaku bagi sebaliknya. Right? Tapi, karena kita adalah makhluk yang diberi kemuliaan atas dasar pemikiran, seharusnya fanatisme yang seperti itu tidak dibenarkan. Kita memang mempunyai hak untuk mengidolakan, memanuti, mangagumi seseorang atau suatu lembaga, tapi tetap harus berdasar pada naluri berpikir kita yang utama, pikiran. Jadi, jika seseorang atau lembaga yang kita panuti terkadang melakukan kesalahan bahkan sering, ya berpikirlah untuk tidak melulu meng-iya-kan segalanya.

Pembaca ada yang merasa fans klub sepak bola Ac Milan? Sebagai salah satu fans Ac Milan, saya selalu membanggakan tim tersebut terlepas dari hasil buruk yang menimpanya (terutama sekarang ini, Ac Milan dalam keadaan yang merisaukan). Tapi, secara naluri sebagai seorang fans berat, saya juga membenci beberapa segi dari Ac Milan, seperti kenapa pemilik klub sangat irit bahkan berkesan pelit dalam membeli pemain, regenerasi pemain muda yang kurang diperhatikan, penghormatan terhadap para mantan pemainnya yang kurang baik, dan keburukan-keburukan lainnya. Artinya, meskipun saya penggemar setia Ac Milan bahkan cinta mati (haha lebay), tapi saya tidak selalu mendewakan tim tersebut. Jadi, jika ada teman atau orang lain yang mengkritik, ya saya terima, memang keadaannya demikian. Karena terkadang kritik itu lebih menyakitkan dari ejekan dalam bentuk apapun.

Waduh, terlalu melebar sepertinya. Saya minta maaf bagi yang tidak mengerti atau tidak tahu menahu soal Ac Milan. Intinya seperti ini, kita boleh saja mengidolakan seseorang atau suatu lembaga sampai ketahap paling ekstrim sekalipun, tapi tetap utamakanlah pemikiran di atas segalanya. Ini juga bukan persoalan “punyaku baik punyamu buruk”, tapi lebih kepada “punyamu baik terkadang buruk, punyaku juga baik tapi terkadang juga buruk”. So, idolakanlah sesuatu dengan sehat!


Mengendarai kendaraan darat baik itu mobil, motor, atau lainnya merupakan salah satu cara agar pengendara menghemat tenaga dan waktu dalam rangka menuju ke suatu tempat. Hal tersebut bergantung pada jarak yang akan ditempuh. Permasalahannya adalah banyak pengendara berusaha menghemat tenaga dan waktu tapi justru mengabaikan keselamatan bahkan nyawanya sendiri.

Satu hal yang erat kaitannya dengan keselamatan berkendara adalah lampu sein. Saya sering menemukan beberapa kasus pengendara baik yang tidak pernah menyalakan lampu sein, terlambat menyalakan lampu sein, lampu sein motornya selalu menyala, bahkan ada pula yang berbelok tidak sesuai dengan lampu sein. Hal tersebut tentu berakibat fatal bagi pengendara itu sendiri maupun bagi pengendara lain. Karena sejatinya lampu sein diciptakan untuk memberi tanda kepada pengguna jalan lainnya. Ditambah lagi dari sumber yang saya baca, UU No 22/2009 pada pasal 294 menegaskan bahwa pengendara yang berbelok atau berbalik arah tanpa memberi isyarat lampu penunjuk arah atau isyarat tangan akan diganjar pidana. Tinggal pilih, mau pidana penjara maksimal satu bulan atau denda Rp 250 ribu. Hukuman tersebut tentu akan lebih berat jika kasusnya sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Persoalan mengenai pengendara yang tidak pernah menggunakan lampu sein adalah persoalan yang paling kritis dalam kaitannya dengan lampu sein. Dengan kata lain, pengendara tipe ini menganggap jalanan seperti miliknya sendiri, tidak memperdulikan pengendara lain.

Dari pengamatan saya, kasus pengendara yang tidak pernah menggunakan lampu sein disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, kendaraannya merupakan kendaraan jadul (sudah tua) sehingga lampu seinnya sudah tidak menyala. Kedua, modifikasi kendaraan sehingga berpikir untuk merubah lampu sein menjadi sangat kecil bahkan meniadakannya. Ketiga, menurut saya ada anggapan yang menganggap bahwa menggunakan lampu sein dianggap kurang gaul (terutama kalangan anak muda).

Persoalan lainnya mengenai lampu sein adalah keterlambatan dalam pemakainnya. Kasus in sering kita temui di jalanan di mana pengendara menggunakan lampu sein seketika saat ia hendak berbelok. Hal tersebut tentu dapat membahayakan pengendara itu sendiri dan pengendara lainnya.

Menurut beberapa sumber yang saya baca, penggunaan lampu sein yang baik berkisar antara 20-30 meter sebelum berbelok. Tentunya kita memiliki perkiraan sendiri kapan seharusnya kita menyalakan lampu sein sebelum berbelok. Pengendara tipe ini meskipun masih membahayakan, tetapi setidaknya masih menghargai pentingnya lampu sein dalam berkendara.

Tipe pengendara lainnya yaitu pengendara yang lampu seinnya selalu menyala. Pengendara tipe ini termasuk ke dalam kategori bahaya. Bagaimana tidak? Pengendara tipe ini selalu membuat pengendara lainnya merasa kebingungan. Misalkan saja lampu seinnya selalu menyala ke arah kanan, padalah si pengendara berjalan lurus. Tentu pengendara lain yang hendak menyalip merasa ragu-ragu.

Bahaya lain yang ditimbulkan tipe pengendara yang selalu menyalakan lampu seinnya merujuk pada tipe berikutnya yaitu berbelok tidak sesuai dengan lampu seinnya. Misalkan saja lampu sein pengendara tipe ini selalu mengarah ke kanan selama perjalanan, sementara ia tiba-tiba berbelok ke kiri, tentu akan mengakibatkan kecelakaan dalam berkendara.

Beberapa kasus diatas dapat diatasi dengan menggunakan isyarat lain yaitu lambaian tangan. Konyolnya, sering saya temui isyarat lambaian tangan justru lebih favorit digunakan dari pada lampu sein itu sendiri, meskipun terkadang lempu sein kendaraannya masih normal dan baik. Akan tetapi, bagaimanapun bentuknya, memberi isyarat kepeda pengendara lain di jalan sangatlah penting.

Dalam berkendara, keselamatan dan nyawa kita dipertaruhkan sekian persen. Meskipun pada dasarnya perihal keselamatan siapa yang tahu, tetapi setidaknya dengan berhati-hati, kita mempu mengurangi resiko tersebut. Oleh karena itu, tetap jaga keselamatan berkendara, sayangi badan kita!


mitchell-lawfirm.com

mitchell-lawfirm.com

 

Hukum adalah satu kata yang selalu nge-hits di Negara Indonesia. Bagaimanapun bentuknya, persoalan hukum selalu menjadi topik utama dalam berbagai jenis pemberitaan, baik itu surat kabar, televisi, atau media-media lainnya. Ya wajar saja, hukum Negara kan yang buat manusia dan manusia tidak luput dari salah. Tapi, apa iya mau selalu bersembunyi di balik pernyataan tersebut?

Pembahasan kali ini bukan mengenai terpidana mati Bali Nine, hakim Sarpin, atau belasan tersangka korupsi yang berebut mendaftar mengajukan praperadilan supaya terbebas dari status tersangka. Sebagai rakyat kecil kita tidak usah terlalu asik memikirkan hal-hal besar semacam itu, puyeng. Mendingan bahas hukum yang ada di sekitar kita. Berkaca dari pengalaman menjadi anak kost dan mendengar cerita teman yang juga seorang anak kost di kota pelajar, saya sangat tertarik membahas mengenai “peraturan mematikan mesin kendaraan ketika memasuki gang kecil.”

Di daerah tempat saya nge-kost, pada umumnya tiap pedusunan, dilarang hukumnya menyalakan kendaraan ketika memasuki gang kecil. Peraturan itu sangat jelas tertulis hampir di setiap pintu masuk/keluar gang. Terkadang beberapa diantaranya terdapat pengecualian seperti tukang antar air mineral (bawa galon 19 lt.), tukang pos, atau keadaan lain yang kurang memungkinkan jika harus menuntun motor dalam keadaan mesin mati.

Persoalannya adalah peraturan tersebut tidak jelas teruntuk siapa. Pasalnya saya sering mendapati beberapa warga asli yang tinggal di daerah gang tersebut justru tidak mengindahkan peraturan tersebut. Sontak saya berasumsi bahwa peraturan tersebut dikhususkan bagi penghuni kost saja, termasuk tamu-tamunya. Tapi, muncul pertanyaan selanjutnya dalam kepala saya ketika ada beberapa penghuni kost yang justru nyaman tanpa ada teguran atau cibiran dari warga meskipun tidak mematikan mesin motor saat melewati gang kecil. Ketika saya mencoba untuk melanggar peraturan tersebut, saya diteriaki oleh salah seorang bapak yang tinggal di daerah gang. Keesokan harinya giliran ibu kost saya yang menegur, “Mas, lain kali mesin motornya dimatikan kalau lewat gang,” katanya.

Melihat dari beberapa situasi di atas, saya berasumsi dan asumsi saya ini sepertinya sangat kuat karena berdasar pada pengalaman teman saya juga kalau: satu, peraturan tersebut tidak berlaku bagi keluarga, sanak saudara, kerabat, teman, tetekbengek warga yang memang asli orang situ (maksudnya yang tinggal di sekitar gang); dua, peraturan tersebut juga tidak berlaku bagi penghuni kost (otomatis bukan warga asli situ) yang dianggap keluarga atau sudah sangat akrab dengan warga; tiga, peraturan tersebut semakin keras ketika yang melanggar adalah penghuni kost yang kurang disenangi. Lah kok jadi seperti itu?

Kontrasnya, mereka (para warga sekitaran gang) memaki para pejabat yang seenaknya memainkan hukum seolah-olah si empunya hukum. Tentu ini menjadi persoalan yang ironis ketika ketimpangan hukum yang terjadi di luar garis kekeluargaan dihujat dan dibenci sedemikian rupanya sementara persoalan hukum kecil yang terjadi dilingkungan kita luput dari rasa keadilan. Memang kadar persoalannya berbeda, hukum yang urusan Negara jauh lebih besar dan fatal jika dilanggar, sementara hukum mengenai mematikan mesin motor saat memasuki gang kecil ya sekecil gangnya, sepele.
Persoalan di atas bukan mengenai kadar besar atau kecilnya, hukum ya hukum, yang salah ya salah, yang benar ya benar, mestinya kan begitu. Misalkan kasus lainnya seperti maling motor yang sering kita lihat di televisi, dihajar puluhan orang bahkan sampai dibakar hidup-hidup. Apakah warga yang memukul dan membakar itu tega melakukannya jika yang maling motor adalah sanak saudara mereka? Tentu tidak!

Jika dari hal-hal kecil saja sudah timpang, saya menjamin jika mereka (para warga asli yang tinggal di sekitaran gang) berada pada posisi seperti para menteri, DPR, gubernur, camat, sampai ke tingkat ketua RT pun akan dengan mudah melanggar hukum. Jadi, berlakulah sebagaimana masyarakat yang taat dan menghargai hukum. Hukum yang dibuat manusia memang banyak cacatnya, tapi pelakunya jangan sampai kita!


Tahajjud Cinta
Emha Ainun Nadjib (Ainun) dilahirkan di Mentro, Sumobito, Jombang, Jawa Timur pada Rabu Legi 27 Mei 1953 sebagai putera ke-4 dari 15 bersaudara, dari suami istri H. A. Lathif dan Halimah. Riwayat pendidikannya acak-acakan: setamat sekolah dasar di desanya ia melanjutkan studi di Pondok Modern Gontor. Pada 1968 setelah mathrud (diusir) dari Pondok Modern Gontor, ia menempuh ujian di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta, lalu melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Di sekolah ini ia sempat keluar lalu masuk lagi sampai tamat. Kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi UGM, tetapi hanya selama 4 bulan. Secara formal, ia berhenti studi, tapi ia tidak berhenti menuntut ilmu. Dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris dan Arab, ia banyak membaca dan menguak mengenai kitab kuning dan referensi-referensi para sarjana Barat.
Ainun pernah bekerja sebagai wartawan dan redaktur (seni budaya, kriminalitas, dan universitaria) harian Masa Kini Yogyakarta selama 3 tahun, menjadi redaktur tamu di harian Bernas selama 3 bulan. Selain, itu ia pernah menolak tawaran dari salah satu majalah terkemuka negeri ini maski dengan tawaran yang menggiurkan. Termasuk juga tawaran dari Jakarta, ia tolak. Karena tidak pernah memikirkan perihal karir, istrinya (Suryaningsih) pernah meminta cerai meskipun telah memiliki anak (Mawa Damar Panuluh). Ia lalu menduda dengan alasan: “Mungkin karena perkawinan adalah dunia yang amat serius, meskipun kita bisa jalani dengan tertawa dan pura-pura tidak stress, atau mungkin karena saya beklum cukup tahu ‘nasib perkawinan’ yang akan saya jalani.”
Hingga penelitian ini dilakukan, Ainun tinggal di rumah kontrakan di bilangan Paatangpuluhan, sebuah rumah sederhana dan wingit. Dari rumah kontrakan itu paling tidak 6 tulisan lahir selama seminggu dan secara rutin dimuat di Surabaya Post, Jawa Post, Berita Nasional, Yogya Post, suara Merdeka, dan Suara Karya. Tulisannya yang menggigit dan bernada humor dimuat di Tempo, Kompas, Suara Pembangunan, Kedaulatan Rakyat, Salam, Amanah, Panji Masyarakat, Kiblat, Matra, dan sebagainya. Bentuk tulisannya meliputi puisi, artikel sastra budaya, cerpen, naskah drama dan lain-lain.
Ainun pernah mengikuti berbagai kegiatan di luar negeri seperti International Program Writing di Lowa City Amerika Serikat (1981), Workshop teater di PETA Philipina, International Poetry Reading di Rotterdam Belanda (1984), Festival Horizonte III di Berlin Barat (1985), dan mengembara di beberapa negara Eropa selama satu setengah tahun lebih.
Penghasilan Ainun dimanifestasikan untuk menciptakan lapangan kerja melalui Bengkel Motor Markesot di Yogya, peternakan ayam di jalan Kaliurang, dan beberapa bentuk kegiatan di Jombang. Serta mengelola dua yayasan yaitu Yayasan Pengembangan Masyarakat Al Muhammadi dan Yayasan Ababil.
Karya-karya Ainun meliputi M. Frustasi di terbitkan dalam bentuk sederhana sekali pada 1975 oleh Pabrik Tulisan, Sajak-sajak Sepanjang Jalan memenangkan sayembara penulisan puisi Tifa Sastra UI tahun 1977, Tak Mati-mati dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 1978, Tuhan Aku Berguru KepadaMu dipuisi-musikkan bersama Teater Dinasti di TIM pada 1980, 99 untuk Tuhanku dibacakan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1982, Nyanyian Gelandangan dibacakan bersama Gruo Musik Teater Dinasti di Taman Budaya Surakarta 1982, Isra’ Mi’raj yang Asyik dibacakan di UGM Yogyakarta pada tahun 1986. Selain itu masih banyak lagi, antara lain Kanvas (belum terbit), Syair Istirah (Masyarakat Poetika Indonesia, 1986), Tidur yang Panjang (belum terbit), Syair-syair Indonesia Raya (belum terbit), Syair Perubahan (belum terbit), Cahaya Maha Cahaya (LP3S, 1988 dan Pustaka Firdaus 1991), Suluk Pesisiran (Mizan, 1988), Lautan Jilbab (Yayasan Al Muhammady, 1989 dan SIPRESS, 1991), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1991), Imam Perubahan (belum terbit), Minuman Keras Nasibku (belum terbit), Syair-syair Asmaul Khusna (belum terbit), Syair Lembu (belum terbit).
Kumpulan cerpen Ainun diterbitkan oleh SIPRESS yang berjudul Yang Terhormat Nama Saya. Naskah dramanya yang berjudul Geger Wing Ngoyak Macan pernah dipentaskan di beberapa kota bersama Teater Dinasti. Naskah drama lainnya yaitu Lautan Jilbab yang merupakan saduran dari puisinya. Naskah-naskah drama lainnya yaitu Sidang Para Setan (1977), Patung Kekasih (1983), Calon Drs. Mul (1984), Mas Dukun (1986), Keajaiban Lik Par (1987), Mas Kanjeng (1990), Santri-santri Khidir (1991), dan Perahu Retak (1991).
Sebagai seorang penulis esei, untuk pertama kalinya Ainun mengumpulkan sejumlah eseinya dalam Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (Jatayu, 1983). Kumpulan esei ini berisikan 29 karya Ainun tentang sosio-budaya dengan diberi pengantar oleh YB Mangunwijaya dan ditambah tulisan Hadjid Hamzah tentang Ainun. Karya esei Ainun yan lain adalah Sastra yang Membebaskan (1985), Dari pojok Sejarah; Renungan Perjalanan (1986), Ikut Tidak Lemah Ikut Tidak Melemahkan (1986), Gerakan Punakawan (1991), dan Slilit Sang Kyai (1992).

Sumber: Jabrohim. 2003. Tahajjud Cinta Emha Ainun Nadjib; Sebuah Kajian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Novel The Woman at Point Zero (Perempuan Di titik Nol) karya Nawal el-Saadawi menceritakan tentang kehidupan Firdaus—seorang perempuan Mesir yang kuat. Kuat dalam artian berani mengatasi rasa takut yang selalu membelenggu kehidupannya.
Dalam Novel ini, paham dekonstruksi yang diterapkan di dalam novelnya adalah ketika ia (pengarang) mampu menjadikan seorang perempuan menjadi sosok yang melawan kekuasaan dari kaum adam. Padahal pandangan yang sudah menjadi konvensi masyarakat pada umumnya menganggap bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah.
Melalui tokoh utama dalam novel ini, pengarang berusaha melawan konvensi-konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat. Perlawanan tersebut ditunjukkan pengarang melalui beberapa konflik yang terjadi di dalam sebuah cerita. Misalkan saja pada peristiwa dimana tokoh utama (seorang pelacur) sangat selektif untuk menentukan teman kencannya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan realita yang ada, dimana seorang pelacur akan dengan mudah menerima laki-laki manapun asalkan dengan tarif yang memuaskan.
Nawal el-Saadawi memberikan asumsi baru bagi para penikmat sastra bahwa perempuanpun mampu menciptakan kondisi dimana mereka berperan sebagai penguasa. Dengan kata lain, faham dekonstruksi feminisme sangat kental terdapat di dalam novel tersebut. Melalui tokoh utamanya pulalah pengarang mengaplikasikan faham Derrida mengenai pertentangannya terhadap teori Saussure yang menganggap hubungan penanda dengan petanda bersifat pasti (Eagleton, 1983:128). Pengarang menganggap bahwa perempuan tidak hanya bermakna seseorang yang lemah dan tidak berdaya, melainkan banyak makna-makna lain yang sifatnya lebih luas. Seperti yang digambarkan pada pernyataan tokoh utama bahwa dia (tokoh utama) tidak pernah percaya akan makhluk yang disebut laki-laki. Seperti ungkapan Derrida bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).
Adapun konflik lain yang menggambarkan paham dekonstruksi adalah ketika pengarang menggambarkan posisi tokoh utama. Seorang pelacur yang dianggap rendah oleh masyarakat, justru harkat mereka dinaikkan oleh pengarang melalui pernyataan:
Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan, termasuk saya.
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 109)
Melalui tokoh utama yang terdapat di dalam Novel Perempuan di Titik Nol, pengarang berusaha menggambarkan kekuatan seorang perempuan. Dari seorang perempuan pelacur, semua kebusukkan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Mesir dan penguasanya terungkap.
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat melalui segala bentuk konvensinya, dapat menjadi pahlawan yang mampu mengungkap segala kebusukkan terjadi dalam kehidupan masyarakat Mesir dan penguasanya. Artinya, makna yang sudah diwakili sebuah perlambang mengenai suatu hal tidaklah pasti, melainkan masih sangat bergantung dari interpretasi individu-individu tertentu.


Abstrak
Makalah ini membahas mengenai perbandingan antara dua karya berbeda jenis, yaitu Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi dengan Film “Jamila dan Sang Presiden” yang memiliki banyak kemiripan dari segi alur konfliknya. Tujuan analisis kedua karya tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana kemiripan dan mengetahui hubungan keterkaitan antara kedua karya tersebut. Caranya yaitu dengan memahami isi kedua karya tersebut, kemudian menganalisis titik mirip keduanya secara keseluruhan dan bagian-bagian tertentu. Kemiripan yang paling sering dijumpai diantara dua karya tersebut adalah dalam hal alur konfliknya. Dari mulai permulaan konflik yang digambarkan hampir sama, lalu konflik utama dan konflik pendukung yang sama, serta penyelesaian konflik yang juga relatif sama. Akan tetapi, kesamaan tersebut bukan merupakan persamaan yang diambil secara langsung, karena faktor analogi. Meskipun tidak menutup kemungkinan kalau Film “Jamila dan Sang Presiden” bisa saja terinspirasi dari Novel “Prempuan di Titik Nol” yang lebih dulu diciptakan.

PEDAHULUAN
Karya sastra lahir akibat adanya proses kreatif seorang pengarang dalam menanggapi keadaan di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra terkadang dapat mewakili kehidupan yang nyata. Adapun salah satu definisi sastra menurut Wellek dan Warren via Wiyatmi (2006: 14) karya sastra merupakan karya imajinatif. Sedangkan Atar Semi (1993:8) mengemukakan bahwa sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia, di samping itu sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia.
Karya sastra, apa pun jenis atau genre-nya, yang lahir dari tangan kreatif pengarang, pada dasarnya selalu berada di tengah-tengah konteks atau tradisi kebudayaannya. Atau dengan kata lain, bagaimanapun karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teeuw, 1980:11). Proses kreatif pengarang sendiri sangat besar pengaruhnya dalam pembuatan karya sastra. Biografi pengarang, keadaan sosial pengarang, kondisi psikologi pengarang, pandangan hidup pengarang, dan sebagainya akan mempengaruhi arah karya sastranya akan dikemanakan. Karena pengarang berperan sebagai penyampai pesan kepada pembaca melalui karyanya. Kondisi tersebut menjadikan perbedaan tanggapan tiap-tiap pengarang dalam memahami sumber objeknya (kehidupan nyata). Akan tetapi, dapat pula terjadi kesamaan sifat karya sastra dari hasil kreatif pengarangnya sehingga terkadang pengarang yang satu memiliki hubungan secara langsung dengan karya pengarang lainnya.
Disiplin ilmu yang membandingkan antara dua karya yang setidak-tidaknya relatif mirip adalah sastra perbandingan. Ada banyak pendapat para ahli dalam merumuskan teori mengenai sastra perbandingan. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal.
Menurut Holman, sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya. Hal senada dikemukakan Remak yang mengungkapkan sebagai berikut: “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sastra perbandingan adalah ilmu yang studi sastra yang membandingkan antara dua buah karya dari dua wilayah berbeda guna menemukan hubungan terkait konteksnya.

METODE PENELITIAN
Objek penelitian pada makalah ini adalah dua buah karya yang berbeda jenis, yaitu membandingkan antara Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi dengan Film “Jamila dan Sang Presiden.”
Faktor yang melatarbelakangi dibandingkannya antara dua karya tersebut adalah karena keduanya memiliki kesamaan dalam segi alur ceritanya. Terlebih karakter budaya bangsa tempat dimana dua karya tersebut dilahirkan relatif sama, mayoritas beragama islam. Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi dari Mesir sedangkan Film “Jamila dan Sang Presiden” dari Indonesia. Selain itu, Indonesia dan Mesir juga termasuk ke dalam pengelompokkan bangsa yang sama, yaitu bangsa yang masih dalam taraf berkembang. Kondisi itulah yang menjadi faktor utama dalam menentukan persamaan sifat antara kedua karya tersebut.
Metode yang digunakan pada makalah ini adalah metode kualitatif induktif, yaitu dengan cara mengetahui dan memahami keseluruhan ceritanya. Setelah itu barulah ditentukan titik kemiripan antara dua karya tersebut. Selanjutnya menentukan sebuah kesimpulan hubungan antara keduanya.

PEMBAHASAN
Sinopsis Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi
Novel The Woman at Point Zero (Perempuan Di titik Nol) menceritakan tentang kehidupan Firdaus—seorang perempuan Mesir yang kuat. Kuat dalam artian berani mengatasi rasa takut yang selalu membelenggu kehidupannya.
Berawal dari kisah keluarganya yang hidup sederhana bahkan terkadang kekurangan dalam hal materi. Keadaan seperti itulah yang kemudian memaksa mereka berfikir menurut tuntutan kehidupan. Ayahnya tidak segan berbuat kasar terhadapnya. Oleh karena itu, ia lebih cenderung dekat dengan pamannya. Akan tetapi, keadaan seperti semakin menjadikan semuanya serba mengherankan. Pamannya yang seorang pelajar di El-Azhar Kairo terkadang berbuat semena-mena terhadapnya (Menjamahi tubuh mulus Firdaus).
Selang berjalannya waktu, Firdaus ikut bersama pamannya. Ia diasuh dan dijamin masa depannya oleh pamannya di Kairo. Hal itu berlangsung sampai ia lulus sekolah menengah. Setelah itu, ia dijodohkan dengan seorang Syeikh (Mahmoud) kenalan pamannya. Ia menjadi istri seorang Syeikh tua berumur enampuluhan tahun. Ia mulai merasa tidak betah tinggal bersama suaminya yang juga bersikap keras terhadapnya. Ia lalu kabur tak tentu arah.
Setelah itu ia bertemu dengan Bayoumi. Bayoumi terlihat sangat ramah padanya. Terlebih ketika ia (Firdaus) diajak untuk ikut bersamanya sampai ia memperoleh pekerjaan. Akan tetapi, nasib malang kembali menimpanya setelah ia tahu bahwa Bayoumi tidak lebih dari bajingan yang menginginkan tubuhnya. Bahkan, Bayoumi menjual tubuh Firdaus kepada temannya. Kemudian ia pergi dari jeratan Bayoumi dan teman-temannya.
Di setiap kepergiannya, ia selalu memilih ke sebuah jalan raya yang ia anggap sebagai tempat teraman. Dan di tempat itulah ia kemudian bertemu dengan Sharifa (pelacur yang berpengalaman). Dari situlah kehidupan Firdaus mulai terasa nyaman meskipun pada akhirnya ia menjadi seorang pelacur dibawah naungan Sharifah. Ia mulai benar-benar mengenal siapa itu laki-laki dan bagaimana gerak geriknya. Sehingga reputasinya menjadi seorang pelcur semakin meningkat.
Waktu terus berputar, Firdaus pun sudah tidak lagi melacurkan tubuhnya. Ia mulai bekerja sebagai karyawan di sebuah perkantoran. Kehidupannya mulai stabil. Di tempat itu, ia mulai menemukan seseorang yang ia cintai, Ibrahim namanya. Awalnya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, terdengar kabar bahwa Ibrahim sudah bertunangan dengan putrid direktur dan menghilang entah kemana.
Empat tahun kemudian ia bertemu dengan Ibrahim yang sudah menjadi istri orang lain. akan tetapi, Ibrahim ternyata tidak jauh berbeda dengan laki-laki yang pernah ia kenal. Ia kini menganggap bahwa Firdaus adalah seorang pelacur. Setelah itu, Firdaus kembali menjadi seorang pelacur. Karirnya sebagai pelacur kembali meningkat. Pada saat itu ia hanya menerima berkencan dengan orang-orang tertentu saja.
Datangnya Marzouk (seorang germo) mengusik ketenangan hidupnya. Posisi Marzouk disini samahalnya dengan Sharifah, menjual tubuh Firdaus untuk kepentingannya sendiri. Hingga pada suatu hari Firdus bersitegang dengan Marzouk dan membunuhnya dengan kejam.
Setelah kejadian itu, ia bertemu dengan seorang Pangeran Arab yang juga hanya menginginkan tubuhnya. Setelah memuaskan nafsu si pangeran, Firduas mencelakainya. Firdaus kemudian di penjara. Ia mendapat ancaman hukuman mati. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak meresa takut atupun menyesal. Justru ia bangga pada dirinya, karena sudah menaklukan keberanian terbesar dalam hidupnya, yaitu melawan ketakutannya sendiri.

Sinopsis Film “Jamila dan Sang Presiden”
Film Jamila dan Presiden menceritakan mengenai kehidupan seorang pelacur. Jamila namanya. Ia merupakan korban human trafficking. Ia sudah dijual oleh orang tuanya sendiri kepada keluarga kaya ketika masih berumur dua tahun. Mulai dari situlah ia pertama kali diperkosa. Karena keberaniannya melawan ketertindasan, Jamila memutuskan untuk membunuh yang memerkosanya lalu kabur.
Selang beberapa waktu, ia mulai menjadi PSK setelah diajak Susi (PSK yang baik). Kehidupannya mulai mapan. Setelah itu, ia mengenal seorang pejabat negara (menteri), Nurdin namanya. Karena Jamila memiliki banyak kelebihan, ia pun diberikan perlakuan khusus oleh Nurdin. Apapun yang Jamila minta pasti dipenuhi olehnya. Akan tetapi, perlakuan khusus itu berujung menyakitkan. Setelah menghamili Jamila, Nurdin menikah (dinikahkan) dengan perempuan lain. Kondisi tersebut memicu Jamila untuk balas dendam mengganggu kehidupan Nurdin. Sampai pada akhirnya dengan tidak sengaja, Jamila membunuh Nurdin dengan pistol.
Karena mengalami tekanan batin yang kuat, Jamila mengakui telah membunuh Nurdin. Ia dituntut hukuman mati oleh pengadilan. Dari dalam penjara ia bercerita panjang lebar mengenai liku-liku kehidupannya kepada kepala sipir penjara dan Ibrahim (orang yang mencintainya). Berbagai cara Ibrahim lakukan untuk meringankan hukuman yang diterima Jamila. Akan tetapi, semua usaha itu sia-sia saja. Jamilah tetap dihukum mati.

Identifikasi Titik Mirip
Untuk menghindari ketidakfokusan dalam meneliti, perlu diadakannya batasan permasalahan yang dibahas. Permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini meliputi 1) tema, 2) alur, 3) penokohan. Melalui pembahasan mengenai titik mirip itulah kemudian ditafsirkan sejauh mana tingkat kemiripan antara Novel “Perempuan di Titik Nol” (PTN) dengan Film “Jamila dan Sang Presiden” (JSP).
1. Tema
Tema yang disajikan oleh Novel PTN dengan Film JSP dapat dikatakan sama persis. Keduanya membicarakan mengenai liku-liku hidup seorang pelacur tegar, seperti yang telah digambarkan melalui kutipan sinopsis diatas.
Kedua cerita tersebut setidaknya mengandung aliran feminisme, dimana posisi perempuan (tokoh utama) sangat diagungkan meskipun di wilayah yang salah (pelacur). Kedua pengarang menganggap bahwa pelacur tidak semuanya jelek. Karena adapula pelacur yang memang dari dia dilahirkan sudah dijerumuskan oleh lingkungan ke dalam dunia pelacuran seperti Firdaus dalam PTN dan Jamila dalam JSP.
Pengarang mencoba melawan tanggapan masyarakat pada umumnya mengenai pelacur. Kedua pengarang menganggap pelacurpun bisa berbuat baik dan benar, bahkan tidak jarang dari mereka yang berbuat bak seorang pahlawan. Oleh sebab itulah, kedua pengarang ingin memberikan pencerahan baru terhadap pandangan masyarakat yang selalu jelek menilai pelacur.
2. Alur
Alur cerita yang disajikan kedua karya tersebut relatif sama. Dari mulai pengenalan konfliknya, inti konfliknya, sampai penyelesaiannya. Dari segi kesamaan alur ceritanya lah yang kemudian menimbulkan tanggapan bahwa mungkin Film JSP bersumber dari Novel PTN. Pada Novel PTN, ceritanya dibuka dengan cerita nyata seorang dokter yang tersentuh untuk mengenal lebih jauh tentang tokoh utama (Firdaus). Sedangkan pada Film JSP ceritanya dibuka dengan kegiatan Human Trafficking oleh sekumpulan orang. Memang sangat jauh berbeda kalau dari segi pembukaan ceritanya. Akan tetapi, pada bagian pengenalan konfliknya, kedua karya sama-sama memaparkan kehidupan semasa kecil tokoh utamanya yang kelam.
Kedua karya sama-sama menjelaskan bahwa semasa kecilnya kedua tokoh utama sama-sama harus berpisah dengan ibu kandungnya, meskipun alasnannya berbeda. Pada Novel PTN, Firdaus harus berpisah dengan ibunya karena ia harus tinggal bersama pamannya ke kota. Sedangkan Jamila dalam JSP harus berpisah dengan ibunya supaya terhindar dari kasus penjualan manusia, sehingga ia pun akhirnya hidup dengan keluarga lain. Setelah itu, kedua tokoh utamanya sama-sama mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari lingkungan terdekatnya. Firdaus menjadi korban pelecehan seksual oleh pamannya. Seperti pada kutipan cerita di bawah ini:
“saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya… sampai paha”
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 20)
Sedangkan Jamila mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh oleh majikan dan anaknya lewat adegan bagaimana pantat Jamila diremas oleh majikannya ketika ia sedang menuangkan minuman ke dalam gelas majikannya. Tidak hanya itu, adapula adegan dimana Jamila diperkosa oleh anak majikannya.
Pada bagian konflik intinya, Novel PTN memaparkan kehidupan Firdaus yang semakin tidak jelas. Ia seperti selalu dimangsa kebengisan kaum pria yang hanya ingin menikmati tubuhnya. Meskipun demikian, ia selalu tegar sehingga kehidupannya berangsur membaik. Ia mulai menikmati kehidupannya sebagai seorang pelacur kelas atas. Hingga pada akhirnya ia terlibat kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap orang penting. Ia pun harus menerima hukuman seberat-beratnya.
Begitu pula pada Film JSP yang juga mengandung konflik ini dimana tokoh utamanya (Jamila) mulai menikmati kehidupan melacurnya. Kehidupannya semakin membaik ketika ia bertemu dengan Nurdin (seorang menteri). Ia pun dijanjikan segala hal oleh Nurdin. Akan tetapi, karena satu faktor, Jamila secara tidak sengaja membunuh Nurdin. Akhirnya ia pun dihukum seberat-beratnya, hukuman mati.
Pada penyelesaian konfliknya, kedua karya tersebut masih memiliki kesamaan. Jamilah dan Firdaus sama-sama tidak pernah menyesali atas apa yang pernah ia perbuat dan sama-sama dihukum mati.
“Sekarang saya sedang menunggu mereka. Sebentar lagi mereka akan datang menjemput saya (untuk dieksekusi).”
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 148)
Dapat disimpulkan dari data di atas, bahwa dari segi alur cerita dan konflik yang terkandung di dalamnya, Novel PTN dan Film JSP memiliki kesamaan. Tingkat kesamaannya pun bahkan mengindikasikan bahwa Novel PTN menginspirasi adanya Film JSP.

3. Penokohan
Novel PTN menggambarkan mengenai kekuatan batin seorang pelacur. Istilah pelacur sendiri dianggap sangat hina oleh masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat akan selalu menganggap bahwa mereka sendiri lebih mulia dari para palacur. Akan tetapi, ada penafsiran yang sangat berbeda dengan penafsiran terhadap pelacur pada umumnya. Seperti pada kutipan di bawah ini:
Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan, termasuk saya.
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 109)
Kondisi teresbut tentunya bermula dari penafsiran pengarang yang digambarkan melalui watak tokoh utamanya. Dari sisi itu, pelacur merasa tidak lebih rendah dari orang-orang pada umumnya, sementara di sisi lain, orang-orang menganggap bahwa pelacur berada pada tingkat dasar kehormatan yang dimiliki manusia.
Di dalam Film JSP juga terdapat adegan kalau tokoh utama (Jamila) sama sekali tidak merasa malu dan rendah hati menjadi seorang pelacur. Bahkan ia bersikap seperti bangga terhadap profesinya itu.
Penggambaran fisik tokoh utama dari Novel PTN dan Film JSP pun memiliki kesamaan. Seperti yang tercantum dalam kutipan di bawah ini:
“saya menemukan bahwa saya memiliki mata yang hitam, dengan kerlingan yang menarik mata lainnya seperti besi berani, dan bahwa hidung saya bukan besar, bukan pula bulat, tetapi penuh dan haus dengan kepadatan perasaan yang dapat berubah menjadi nafsu. Tubuh saya langsing, paha saya tegang, hidup dengan otot…”
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 78)

KESIMPULAN
Dari beberapa fakta yang dihasilkan melalui pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa: a) Novel PTN dan Film JSP memiliki kesamaan dari segi tema ceritanya, b) alur cerita yang dipaparkan oleh Novel PTN dan Film JSP memiliki kemiripan dari mulai pengenalan konflik, klimaks konflik, serta penyelesaian konfliknya, c) kemiripan lainnya yang sangat jelas terlihat yaitu dari segi perwatakan tokoh di antara kedua karya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
El-Saadawi, Nawal. 2010. Perempuan Di Titik Nol. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Film Jamila dan Presiden, 2009.
Mahayana, Maman S. 2009. Sastra Bandingan: Pintu Masuk Kajian Budaya, Studi Kasus Romeo dan Julia, Sonezaki Shinju, Uda dan Dara. http://www.fib.ui.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=151:sastrabandingan catid=39:artikel-ilmiah&Itemid=122&lang=. Diakses pada tanggal 10 Januari 2012.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.