Memasuki bulan Ramadhan, siapapun dari kita tentu sedikit tergerak meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Bulan Ramadhan menjadi ladang bagi kaum muslimin karena konon pahala dari setiap amal ibadah akan dikalikan jauh lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Saya juga pernah dengar pernyataan “Shalat di bulan Ramadhan pahalanya seribu kali lebih besar dari shalat pada bulan biasanya.”

Promo pahala menggiurkan di bulan Ramadhan membuat kita semakin bersemangat beribadah. Perbanyak tadarus Al-qur’an, tarawih, shalat sunnah, dzikir, dan sebagainya. Tapi, sadarkah kita bahwa kita justru termakan oleh nafsu untuk mendapatkan beribu kemuliaan tersebut. Artinya, ketika kita beribadah, kita sudah tidak lagi menunjukkan bahwa “saya beribadah lillahi ta’ala”, melainkan karena ingin mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Lalu, seberapa rendah letak keikhlasan kita? Kita justru menjadi semakin pamrih kepada tuhan kita sendiri. Urusan pahala biar menjadi urusan tuhan semata.

Satu hal lain yang membuat kita semakin gila pahala di bulan Ramadhan adalah tentang malam Lailatul Qadar. Saya sering mendengar perkataan “Ayo semua sering-sering tadarus dan dzikir biar dapat Lailatul Qadar.” Dari kalimat tersebut saja kita bisa langsung menyimpulkan kegilaan kita akan pahala di bulan Ramadhan. Perihal malam Lailatul Qadar, saya mengasumsikan bahwa orang yang sedikit ibadah tapi ikhlas dan tulus lebih besar kemungkinan mendapatkan malam tersebut, dari pada orang yang sangat keras dan kuat kemauan beribadahnya tapi demi mendapatkan pahala. Tentunya semua itu kembali kepada diri kita sendiri. Karena keikhlasan hanya kita dan tuhan yang tahu.

Beribadah adalah cara terbaik kita untuk mengakui kalau kita manusia. Tapi waspadalah, karena kesombongan yang paling dekat dengan kita adalah saat kita beribadah.


Banyak orang pintar di dunia ini, di sekitar kita lebih spesifiknya. Pada dasarnya dunia ini tentu membutuhkan banyak orang pintar, terutama di Indonesia, sepertinya. Tapi, itu bukan berarti semua orang pintar berguna bagi semua orang. Dengan kata lain, kepintaran seseorang tidak menjamin seseorang tersebut dapat berguna dalam suatu tatanan kemasyarakatan. Apa iya?

Begini saja, lupakan sebentar pernyataan saya di atas, saya ingin memberikan sedikit contoh, dan tentunya Anda sendiri dapat memberi kesimpulan menurut sudut pandang Anda. “Di suatu desa kecil terdapat satu orang lulusan master (apapun itu) dari suatu perguruan tinggi. Oleh warga ia dianggap sebagai yang paling pintar di antarawarga lainnya, mungkin karena ia satu-satunya yang mampu menempuh taraf pendidikan tinggi. Ketika ia berjalan melewati sebuah jalan dan di tengah jalan terdapat batu kecil tapi cukup membahayakan pengguna kendaraan jika melindas batu tersebut. Si master itu tahu kalau ada batu tersebut di tengah jalan, tapi ia tidak berusaha memindahkan batu tersebut (mungkin karena ia menganggap batu itu tidak berbahaya atau ia sedang terburu-buru itu urusan belakangan). Lalu, seorang lain (entah itu pedagang keliling, tukang becak, pengamen, dan sebagainya) juga melewati jalan itu dan melihat batu tersebut di tengah jalan. Sesegera mungkin ia memindahkannya. Yang ia pikirkan hanya kalau-kalau batu itu menyebabkan kecelakaan meskipun ringan, atau batu itu terpental ke suatu arah hingga melukai atau merugikan orang lain. Pertanyaannya adalah pihak manakah yang paling berguna terhadap lingkungan sekitar jika dilihat cerita tersebut?

Cerita di atas hanya sebuah gambaran kecil betapa orang yang pintar secara teoritis, titel, konseptual, dan lain sebagainya tidak melulu berguna bagi masyarakat. Karena di dunia ini, khususnya di Indonesia, yang kita butuhkan bukan lagi orang pintar (saya berpendapat sudah terlalu banyak orang pintar di Indonesia), melainkan orang yang memiliki kesadaran baik itu pada taraf yang tinggi atau ringan sekalipun.

Kesadaran, bagaimanapun bentuknya, akan berharga demi kelangsungan hidup kita bersama. Itulah kenapa di dunia nyata, kita tidak membutuhkan superhero semacam the Avengers, Spiderman, Superman, dan kawan-kawannya yang mencoba menyelamatkan dunia dengan jurus-jurusnya. Tapi, sejatinya modal utama dari para seuperhero tersebut adalah kesadaran bahwa mereka harus menyelamatkan dunia dengan caranya masing-masing. Intinya, kita tidak butuh berbagai macam jurus untuk menyelamatkan dunia (secara spesifik lingkungan kita), kita hanya butuh kesadaran secara naluri tentang apa yang harus kita lakukan. Dan itu banyak caranya, man! Dari hal-hal kecil saja lah, seperti mematikan keran agar air tidak terbuang percuma, mematikan lampu ketika dirasa sudah terang dan tidak dibutuhkan, menyingkirkan kerikil dari tengah jalan, berkendara perlahan ketika melewati kubangan, dan hal-hal kecil lainnya yang mungkin kita anggap tidak penting.

Ini bukan persoalan penting tidak penting, harus tidak harus, ini persoalan bagaimana kita menyikapi lingkungan sekitar kita. Kalau saya, memilih untuk menjadi orang bodoh yang memiliki kesadaran itu lebih baik dari pada menjadi orang pintar yang tidak memiliki kesadaran. Pilihan terbaik tentunya menjadi orang pintar yang memiliki kesadaran. So, Anda memilih di posisi yang seperti apa?!

Mengidolakan Dengan Cara Sehat

Posted: 6 April 2015 in Sentil
Tags: , ,

Inspirator, idola, panutan, atau apapun namanya, terkadang sangat ironis, bahkan menuju ke tingkat yang teramat sangat… membahayakan. Terlebih di era modern ini di mana seorang penggemar, penganut, pemuja, dan sebagainya dapat dengan mudah mengikuti segala bentuk informasi terkini dari seseorang yang diidolakannya. Misalkan seorang penggemar bisa selalu tahu aktifitas keseharian idolanya melalui jejaring sosial seperti twitter, facebook, instagram, dan lain sebagainya. Sarana teknologi yang semakin mutakhir tersebut tentu berbalik lurus dengan kecintaannya terhadap idolanya. Simpelnya ya seperti sebuah lirik lagu yang berbunyi tak kenal maka tak sayang (dengan kata lain semakin kenal semakin sayang, meskipun tidak melulu seperti itu).

Permasalahannya, apakah semua yang dilakukan oleh idolanya adalah sesuatu yang bersifat baik? Bagaimana kalau ternyata buruk? (tetap harus digarisbawahi bahwa kita tetap harus memegang teguh bahwa baik atau buruknya bergantung pada situasi). Hal tersebut memunculkan permasalahan lain yang lebih kongkrit jika sudah mengacu pada titik yang biasa kita sebut dengan fanatisme, “baik dan buruk urusan belakangan, yang penting idolaku tetap nomor satu.” Ah, wake up man!

Kita ambil contoh yang paling kongkrit yaitu mengenai presiden Jokowi (wah, berat!). Tenang, saya hanya mengambil garis secara umum, jadi tidak akan mengacu pada segi yang sensitif. Bagi seorang pendukung fanatik Pak Jokowi, keputusan, ucapan, dan tindakan beliau mengenai apapun, akan selalu dinilai benar. Tentunya itu berlaku bagi sebaliknya. Right? Tapi, karena kita adalah makhluk yang diberi kemuliaan atas dasar pemikiran, seharusnya fanatisme yang seperti itu tidak dibenarkan. Kita memang mempunyai hak untuk mengidolakan, memanuti, mangagumi seseorang atau suatu lembaga, tapi tetap harus berdasar pada naluri berpikir kita yang utama, pikiran. Jadi, jika seseorang atau lembaga yang kita panuti terkadang melakukan kesalahan bahkan sering, ya berpikirlah untuk tidak melulu meng-iya-kan segalanya.

Pembaca ada yang merasa fans klub sepak bola Ac Milan? Sebagai salah satu fans Ac Milan, saya selalu membanggakan tim tersebut terlepas dari hasil buruk yang menimpanya (terutama sekarang ini, Ac Milan dalam keadaan yang merisaukan). Tapi, secara naluri sebagai seorang fans berat, saya juga membenci beberapa segi dari Ac Milan, seperti kenapa pemilik klub sangat irit bahkan berkesan pelit dalam membeli pemain, regenerasi pemain muda yang kurang diperhatikan, penghormatan terhadap para mantan pemainnya yang kurang baik, dan keburukan-keburukan lainnya. Artinya, meskipun saya penggemar setia Ac Milan bahkan cinta mati (haha lebay), tapi saya tidak selalu mendewakan tim tersebut. Jadi, jika ada teman atau orang lain yang mengkritik, ya saya terima, memang keadaannya demikian. Karena terkadang kritik itu lebih menyakitkan dari ejekan dalam bentuk apapun.

Waduh, terlalu melebar sepertinya. Saya minta maaf bagi yang tidak mengerti atau tidak tahu menahu soal Ac Milan. Intinya seperti ini, kita boleh saja mengidolakan seseorang atau suatu lembaga sampai ketahap paling ekstrim sekalipun, tapi tetap utamakanlah pemikiran di atas segalanya. Ini juga bukan persoalan “punyaku baik punyamu buruk”, tapi lebih kepada “punyamu baik terkadang buruk, punyaku juga baik tapi terkadang juga buruk”. So, idolakanlah sesuatu dengan sehat!


Mengendarai kendaraan darat baik itu mobil, motor, atau lainnya merupakan salah satu cara agar pengendara menghemat tenaga dan waktu dalam rangka menuju ke suatu tempat. Hal tersebut bergantung pada jarak yang akan ditempuh. Permasalahannya adalah banyak pengendara berusaha menghemat tenaga dan waktu tapi justru mengabaikan keselamatan bahkan nyawanya sendiri.

Satu hal yang erat kaitannya dengan keselamatan berkendara adalah lampu sein. Saya sering menemukan beberapa kasus pengendara baik yang tidak pernah menyalakan lampu sein, terlambat menyalakan lampu sein, lampu sein motornya selalu menyala, bahkan ada pula yang berbelok tidak sesuai dengan lampu sein. Hal tersebut tentu berakibat fatal bagi pengendara itu sendiri maupun bagi pengendara lain. Karena sejatinya lampu sein diciptakan untuk memberi tanda kepada pengguna jalan lainnya. Ditambah lagi dari sumber yang saya baca, UU No 22/2009 pada pasal 294 menegaskan bahwa pengendara yang berbelok atau berbalik arah tanpa memberi isyarat lampu penunjuk arah atau isyarat tangan akan diganjar pidana. Tinggal pilih, mau pidana penjara maksimal satu bulan atau denda Rp 250 ribu. Hukuman tersebut tentu akan lebih berat jika kasusnya sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Persoalan mengenai pengendara yang tidak pernah menggunakan lampu sein adalah persoalan yang paling kritis dalam kaitannya dengan lampu sein. Dengan kata lain, pengendara tipe ini menganggap jalanan seperti miliknya sendiri, tidak memperdulikan pengendara lain.

Dari pengamatan saya, kasus pengendara yang tidak pernah menggunakan lampu sein disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, kendaraannya merupakan kendaraan jadul (sudah tua) sehingga lampu seinnya sudah tidak menyala. Kedua, modifikasi kendaraan sehingga berpikir untuk merubah lampu sein menjadi sangat kecil bahkan meniadakannya. Ketiga, menurut saya ada anggapan yang menganggap bahwa menggunakan lampu sein dianggap kurang gaul (terutama kalangan anak muda).

Persoalan lainnya mengenai lampu sein adalah keterlambatan dalam pemakainnya. Kasus in sering kita temui di jalanan di mana pengendara menggunakan lampu sein seketika saat ia hendak berbelok. Hal tersebut tentu dapat membahayakan pengendara itu sendiri dan pengendara lainnya.

Menurut beberapa sumber yang saya baca, penggunaan lampu sein yang baik berkisar antara 20-30 meter sebelum berbelok. Tentunya kita memiliki perkiraan sendiri kapan seharusnya kita menyalakan lampu sein sebelum berbelok. Pengendara tipe ini meskipun masih membahayakan, tetapi setidaknya masih menghargai pentingnya lampu sein dalam berkendara.

Tipe pengendara lainnya yaitu pengendara yang lampu seinnya selalu menyala. Pengendara tipe ini termasuk ke dalam kategori bahaya. Bagaimana tidak? Pengendara tipe ini selalu membuat pengendara lainnya merasa kebingungan. Misalkan saja lampu seinnya selalu menyala ke arah kanan, padalah si pengendara berjalan lurus. Tentu pengendara lain yang hendak menyalip merasa ragu-ragu.

Bahaya lain yang ditimbulkan tipe pengendara yang selalu menyalakan lampu seinnya merujuk pada tipe berikutnya yaitu berbelok tidak sesuai dengan lampu seinnya. Misalkan saja lampu sein pengendara tipe ini selalu mengarah ke kanan selama perjalanan, sementara ia tiba-tiba berbelok ke kiri, tentu akan mengakibatkan kecelakaan dalam berkendara.

Beberapa kasus diatas dapat diatasi dengan menggunakan isyarat lain yaitu lambaian tangan. Konyolnya, sering saya temui isyarat lambaian tangan justru lebih favorit digunakan dari pada lampu sein itu sendiri, meskipun terkadang lempu sein kendaraannya masih normal dan baik. Akan tetapi, bagaimanapun bentuknya, memberi isyarat kepeda pengendara lain di jalan sangatlah penting.

Dalam berkendara, keselamatan dan nyawa kita dipertaruhkan sekian persen. Meskipun pada dasarnya perihal keselamatan siapa yang tahu, tetapi setidaknya dengan berhati-hati, kita mempu mengurangi resiko tersebut. Oleh karena itu, tetap jaga keselamatan berkendara, sayangi badan kita!


mitchell-lawfirm.com

mitchell-lawfirm.com

 

Hukum adalah satu kata yang selalu nge-hits di Negara Indonesia. Bagaimanapun bentuknya, persoalan hukum selalu menjadi topik utama dalam berbagai jenis pemberitaan, baik itu surat kabar, televisi, atau media-media lainnya. Ya wajar saja, hukum Negara kan yang buat manusia dan manusia tidak luput dari salah. Tapi, apa iya mau selalu bersembunyi di balik pernyataan tersebut?

Pembahasan kali ini bukan mengenai terpidana mati Bali Nine, hakim Sarpin, atau belasan tersangka korupsi yang berebut mendaftar mengajukan praperadilan supaya terbebas dari status tersangka. Sebagai rakyat kecil kita tidak usah terlalu asik memikirkan hal-hal besar semacam itu, puyeng. Mendingan bahas hukum yang ada di sekitar kita. Berkaca dari pengalaman menjadi anak kost dan mendengar cerita teman yang juga seorang anak kost di kota pelajar, saya sangat tertarik membahas mengenai “peraturan mematikan mesin kendaraan ketika memasuki gang kecil.”

Di daerah tempat saya nge-kost, pada umumnya tiap pedusunan, dilarang hukumnya menyalakan kendaraan ketika memasuki gang kecil. Peraturan itu sangat jelas tertulis hampir di setiap pintu masuk/keluar gang. Terkadang beberapa diantaranya terdapat pengecualian seperti tukang antar air mineral (bawa galon 19 lt.), tukang pos, atau keadaan lain yang kurang memungkinkan jika harus menuntun motor dalam keadaan mesin mati.

Persoalannya adalah peraturan tersebut tidak jelas teruntuk siapa. Pasalnya saya sering mendapati beberapa warga asli yang tinggal di daerah gang tersebut justru tidak mengindahkan peraturan tersebut. Sontak saya berasumsi bahwa peraturan tersebut dikhususkan bagi penghuni kost saja, termasuk tamu-tamunya. Tapi, muncul pertanyaan selanjutnya dalam kepala saya ketika ada beberapa penghuni kost yang justru nyaman tanpa ada teguran atau cibiran dari warga meskipun tidak mematikan mesin motor saat melewati gang kecil. Ketika saya mencoba untuk melanggar peraturan tersebut, saya diteriaki oleh salah seorang bapak yang tinggal di daerah gang. Keesokan harinya giliran ibu kost saya yang menegur, “Mas, lain kali mesin motornya dimatikan kalau lewat gang,” katanya.

Melihat dari beberapa situasi di atas, saya berasumsi dan asumsi saya ini sepertinya sangat kuat karena berdasar pada pengalaman teman saya juga kalau: satu, peraturan tersebut tidak berlaku bagi keluarga, sanak saudara, kerabat, teman, tetekbengek warga yang memang asli orang situ (maksudnya yang tinggal di sekitar gang); dua, peraturan tersebut juga tidak berlaku bagi penghuni kost (otomatis bukan warga asli situ) yang dianggap keluarga atau sudah sangat akrab dengan warga; tiga, peraturan tersebut semakin keras ketika yang melanggar adalah penghuni kost yang kurang disenangi. Lah kok jadi seperti itu?

Kontrasnya, mereka (para warga sekitaran gang) memaki para pejabat yang seenaknya memainkan hukum seolah-olah si empunya hukum. Tentu ini menjadi persoalan yang ironis ketika ketimpangan hukum yang terjadi di luar garis kekeluargaan dihujat dan dibenci sedemikian rupanya sementara persoalan hukum kecil yang terjadi dilingkungan kita luput dari rasa keadilan. Memang kadar persoalannya berbeda, hukum yang urusan Negara jauh lebih besar dan fatal jika dilanggar, sementara hukum mengenai mematikan mesin motor saat memasuki gang kecil ya sekecil gangnya, sepele.
Persoalan di atas bukan mengenai kadar besar atau kecilnya, hukum ya hukum, yang salah ya salah, yang benar ya benar, mestinya kan begitu. Misalkan kasus lainnya seperti maling motor yang sering kita lihat di televisi, dihajar puluhan orang bahkan sampai dibakar hidup-hidup. Apakah warga yang memukul dan membakar itu tega melakukannya jika yang maling motor adalah sanak saudara mereka? Tentu tidak!

Jika dari hal-hal kecil saja sudah timpang, saya menjamin jika mereka (para warga asli yang tinggal di sekitaran gang) berada pada posisi seperti para menteri, DPR, gubernur, camat, sampai ke tingkat ketua RT pun akan dengan mudah melanggar hukum. Jadi, berlakulah sebagaimana masyarakat yang taat dan menghargai hukum. Hukum yang dibuat manusia memang banyak cacatnya, tapi pelakunya jangan sampai kita!


Tahajjud Cinta
Emha Ainun Nadjib (Ainun) dilahirkan di Mentro, Sumobito, Jombang, Jawa Timur pada Rabu Legi 27 Mei 1953 sebagai putera ke-4 dari 15 bersaudara, dari suami istri H. A. Lathif dan Halimah. Riwayat pendidikannya acak-acakan: setamat sekolah dasar di desanya ia melanjutkan studi di Pondok Modern Gontor. Pada 1968 setelah mathrud (diusir) dari Pondok Modern Gontor, ia menempuh ujian di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta, lalu melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Di sekolah ini ia sempat keluar lalu masuk lagi sampai tamat. Kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi UGM, tetapi hanya selama 4 bulan. Secara formal, ia berhenti studi, tapi ia tidak berhenti menuntut ilmu. Dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris dan Arab, ia banyak membaca dan menguak mengenai kitab kuning dan referensi-referensi para sarjana Barat.
Ainun pernah bekerja sebagai wartawan dan redaktur (seni budaya, kriminalitas, dan universitaria) harian Masa Kini Yogyakarta selama 3 tahun, menjadi redaktur tamu di harian Bernas selama 3 bulan. Selain, itu ia pernah menolak tawaran dari salah satu majalah terkemuka negeri ini maski dengan tawaran yang menggiurkan. Termasuk juga tawaran dari Jakarta, ia tolak. Karena tidak pernah memikirkan perihal karir, istrinya (Suryaningsih) pernah meminta cerai meskipun telah memiliki anak (Mawa Damar Panuluh). Ia lalu menduda dengan alasan: “Mungkin karena perkawinan adalah dunia yang amat serius, meskipun kita bisa jalani dengan tertawa dan pura-pura tidak stress, atau mungkin karena saya beklum cukup tahu ‘nasib perkawinan’ yang akan saya jalani.”
Hingga penelitian ini dilakukan, Ainun tinggal di rumah kontrakan di bilangan Paatangpuluhan, sebuah rumah sederhana dan wingit. Dari rumah kontrakan itu paling tidak 6 tulisan lahir selama seminggu dan secara rutin dimuat di Surabaya Post, Jawa Post, Berita Nasional, Yogya Post, suara Merdeka, dan Suara Karya. Tulisannya yang menggigit dan bernada humor dimuat di Tempo, Kompas, Suara Pembangunan, Kedaulatan Rakyat, Salam, Amanah, Panji Masyarakat, Kiblat, Matra, dan sebagainya. Bentuk tulisannya meliputi puisi, artikel sastra budaya, cerpen, naskah drama dan lain-lain.
Ainun pernah mengikuti berbagai kegiatan di luar negeri seperti International Program Writing di Lowa City Amerika Serikat (1981), Workshop teater di PETA Philipina, International Poetry Reading di Rotterdam Belanda (1984), Festival Horizonte III di Berlin Barat (1985), dan mengembara di beberapa negara Eropa selama satu setengah tahun lebih.
Penghasilan Ainun dimanifestasikan untuk menciptakan lapangan kerja melalui Bengkel Motor Markesot di Yogya, peternakan ayam di jalan Kaliurang, dan beberapa bentuk kegiatan di Jombang. Serta mengelola dua yayasan yaitu Yayasan Pengembangan Masyarakat Al Muhammadi dan Yayasan Ababil.
Karya-karya Ainun meliputi M. Frustasi di terbitkan dalam bentuk sederhana sekali pada 1975 oleh Pabrik Tulisan, Sajak-sajak Sepanjang Jalan memenangkan sayembara penulisan puisi Tifa Sastra UI tahun 1977, Tak Mati-mati dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 1978, Tuhan Aku Berguru KepadaMu dipuisi-musikkan bersama Teater Dinasti di TIM pada 1980, 99 untuk Tuhanku dibacakan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1982, Nyanyian Gelandangan dibacakan bersama Gruo Musik Teater Dinasti di Taman Budaya Surakarta 1982, Isra’ Mi’raj yang Asyik dibacakan di UGM Yogyakarta pada tahun 1986. Selain itu masih banyak lagi, antara lain Kanvas (belum terbit), Syair Istirah (Masyarakat Poetika Indonesia, 1986), Tidur yang Panjang (belum terbit), Syair-syair Indonesia Raya (belum terbit), Syair Perubahan (belum terbit), Cahaya Maha Cahaya (LP3S, 1988 dan Pustaka Firdaus 1991), Suluk Pesisiran (Mizan, 1988), Lautan Jilbab (Yayasan Al Muhammady, 1989 dan SIPRESS, 1991), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1991), Imam Perubahan (belum terbit), Minuman Keras Nasibku (belum terbit), Syair-syair Asmaul Khusna (belum terbit), Syair Lembu (belum terbit).
Kumpulan cerpen Ainun diterbitkan oleh SIPRESS yang berjudul Yang Terhormat Nama Saya. Naskah dramanya yang berjudul Geger Wing Ngoyak Macan pernah dipentaskan di beberapa kota bersama Teater Dinasti. Naskah drama lainnya yaitu Lautan Jilbab yang merupakan saduran dari puisinya. Naskah-naskah drama lainnya yaitu Sidang Para Setan (1977), Patung Kekasih (1983), Calon Drs. Mul (1984), Mas Dukun (1986), Keajaiban Lik Par (1987), Mas Kanjeng (1990), Santri-santri Khidir (1991), dan Perahu Retak (1991).
Sebagai seorang penulis esei, untuk pertama kalinya Ainun mengumpulkan sejumlah eseinya dalam Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (Jatayu, 1983). Kumpulan esei ini berisikan 29 karya Ainun tentang sosio-budaya dengan diberi pengantar oleh YB Mangunwijaya dan ditambah tulisan Hadjid Hamzah tentang Ainun. Karya esei Ainun yan lain adalah Sastra yang Membebaskan (1985), Dari pojok Sejarah; Renungan Perjalanan (1986), Ikut Tidak Lemah Ikut Tidak Melemahkan (1986), Gerakan Punakawan (1991), dan Slilit Sang Kyai (1992).

Sumber: Jabrohim. 2003. Tahajjud Cinta Emha Ainun Nadjib; Sebuah Kajian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Novel The Woman at Point Zero (Perempuan Di titik Nol) karya Nawal el-Saadawi menceritakan tentang kehidupan Firdaus—seorang perempuan Mesir yang kuat. Kuat dalam artian berani mengatasi rasa takut yang selalu membelenggu kehidupannya.
Dalam Novel ini, paham dekonstruksi yang diterapkan di dalam novelnya adalah ketika ia (pengarang) mampu menjadikan seorang perempuan menjadi sosok yang melawan kekuasaan dari kaum adam. Padahal pandangan yang sudah menjadi konvensi masyarakat pada umumnya menganggap bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah.
Melalui tokoh utama dalam novel ini, pengarang berusaha melawan konvensi-konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat. Perlawanan tersebut ditunjukkan pengarang melalui beberapa konflik yang terjadi di dalam sebuah cerita. Misalkan saja pada peristiwa dimana tokoh utama (seorang pelacur) sangat selektif untuk menentukan teman kencannya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan realita yang ada, dimana seorang pelacur akan dengan mudah menerima laki-laki manapun asalkan dengan tarif yang memuaskan.
Nawal el-Saadawi memberikan asumsi baru bagi para penikmat sastra bahwa perempuanpun mampu menciptakan kondisi dimana mereka berperan sebagai penguasa. Dengan kata lain, faham dekonstruksi feminisme sangat kental terdapat di dalam novel tersebut. Melalui tokoh utamanya pulalah pengarang mengaplikasikan faham Derrida mengenai pertentangannya terhadap teori Saussure yang menganggap hubungan penanda dengan petanda bersifat pasti (Eagleton, 1983:128). Pengarang menganggap bahwa perempuan tidak hanya bermakna seseorang yang lemah dan tidak berdaya, melainkan banyak makna-makna lain yang sifatnya lebih luas. Seperti yang digambarkan pada pernyataan tokoh utama bahwa dia (tokoh utama) tidak pernah percaya akan makhluk yang disebut laki-laki. Seperti ungkapan Derrida bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).
Adapun konflik lain yang menggambarkan paham dekonstruksi adalah ketika pengarang menggambarkan posisi tokoh utama. Seorang pelacur yang dianggap rendah oleh masyarakat, justru harkat mereka dinaikkan oleh pengarang melalui pernyataan:
Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan, termasuk saya.
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 109)
Melalui tokoh utama yang terdapat di dalam Novel Perempuan di Titik Nol, pengarang berusaha menggambarkan kekuatan seorang perempuan. Dari seorang perempuan pelacur, semua kebusukkan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Mesir dan penguasanya terungkap.
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat melalui segala bentuk konvensinya, dapat menjadi pahlawan yang mampu mengungkap segala kebusukkan terjadi dalam kehidupan masyarakat Mesir dan penguasanya. Artinya, makna yang sudah diwakili sebuah perlambang mengenai suatu hal tidaklah pasti, melainkan masih sangat bergantung dari interpretasi individu-individu tertentu.