Diary Sang Pemburu

Posted: 11 Januari 2010 in cerpen

Senja mulai lenyap terhapuskan petang. Kuurungkan niatku untuk berburu, di tengah hutan. Kulajukan mobil jipku mencari tempat bermalam yang nyaman. Terlihat rumah kecil tepat di arah mobilku melaju. Kumatikan mesin mobil dan berjalan gontai mendekati rumah yang nampak gelap, sunyi dan tak berpenghuni itu.
Tertatih langkah kakiku menghampiri rumah tua itu. Pelan langkah kakiku sembari menyalakan senter kecil yang hampir redup cahanya. Lalu, kuambil sebongkah kayu keras yang berserakan di halaman rumah itu, hendak kujadikan senjata untuk berjaga-jaga.
Tepat di pintu utama aku berdiri. Jantungku berdetak semakin kencang. Nafas yang sesak berat kutarik dalam-dalam. Kudorong pintu itu perlahan. Krek… bunyi yang syarat akan kemistikan. Setiap sudut ruangan itu kusoroti dengan cahaya senter di tangan kiriku. Berantakan. Kursi, meja, lampu, lemari dan rak buku penuh jaring laba-laba dan berdebu, entah berapa tahun usianya. Di bagian kanan ruangan itu terlihat pintu kamar setengah terbuka. Kembali kuarahkan senter ke sela pintu itu. Sorot mata terlihat memancar memantulkan cahaya dari senterku. Ah, hanya hiasan kepala harimau yang menempel di dinding kamar itu rupanya.
Kubuka pintu kamar itu lebar-lebar. Bukan hanya hiasan kepala harimau rupanya, terpampang pula kepala rusa, babi hutan, beruang dan beberapa jenis senapan yang menempel pada dinding kamar itu, sebagai hiasan. Pun terlihat poster besar bertuliskan kata “Hunter”.hunter
Di pojok kanan ruangan itu terlihat meja tua dengan beberapa buku berserakan diatasnya. Hatiku tergerak melihat buku yang nampak telah terbuka. Kusam dan berdebu. Kutiup, hingga berterbangan debu seperti asap kelam yang keluar dari mobil tua yang usang. Sampul buku itu bertuliskan “Diary”.
Kubaca Biodata pemilik buku itu, Robert William namanya. Ia lahir di Rotterdam, Belanda, pada tanggal 20 Desember 1951. Dalam hatiku bertanya, Robert William? Yang belum lama jasadnya di temukan telah tewas di tengah hutan itu kah? Yang kemudian kasus kematian itu menjadi misteri tersendiri setelah di temukan nama Dr. Thomas didalam saku kanan bajunya. Semakin penasaran aku akan isi buku itu. Kubuka tiap halaman dari buku itu. Dan nampaknya berisikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Tapi aku tak tahu persis. Karena tulisan itu tak bisa kumengerti bahasanya, mungkin bahasa Belanda. Kubuka terus tiap halaman. Hingga sampai pada halaman 483, tulisan itu tak lagi menggunakan bahasa yang tak kukenal, melainkan menggunakan bahasa Indonesia. Tulisan-tulisan itu mengisahkan perjalanannya berburu di Indonesia, di pulau Kalimantan tepatnya. Tak teratur tata bahasa pada tulisan itu, tapi masih bisa ku mengerti maksudnya.
Kubaca, dan terus kubaca hingga sampai pada halaman akhir buku itu yang tertulis tanggal 23 Mei 2007, dan di bawahnya bertuliskan : “Saya berangkat ke hutan dari rumah pagi-pagi. Saya bawa kotak isi senapan bius dan makanan minuman yang cukup. Semanagat sekali saya tadi pagi karena saya mau memburu singa. Setelah siap, saya langsung berangkat. Sampai di hutan saya beristirahat di bawah pohon besar yang daunnya banyak. Kemudian saya memakan beberapa makanan saya. Lalu minum. Setelah itu saya langsung berburu singa dengan membawa senapan dan kotak perlengkapan berburu saya. Saya berjalan melewati semak-semak, melewati sungai banyak ikan. Lalu saya mendengar suara auman singa. Seperti tidak jauh dari saya. Saya dekati suara itu. Dan saya melihat seekor singa yang besar sedang makan rusa yang sudah mati. Saya mengarahkan senapan bius saya ke singa itu, kemudian saya tembak. Singa itu semakin keras mengaumnya. Ia menjadi lemah dan jatuh ke tanah. Saya dekati singa itu. Tapi tiba-tiba ada ular menggigit tangan saya. Ular kobra. Kemudian saya menembaknya sampai mati. Tangan saya terkena racun ular itu. Lalu, saya membuka kotak perlengkapan berburu saya, mencari obat penawar racun. Saya keluarkan semua isinya. Tapi tidak ada. Akhirnya, saya langsung pulang ke rumah. Badan saya semakin dingin dan mulai lemah. Saya cari-cari obat itu tidak ada juga di rumah. Padahal seharusnya ada, banyak. Lalu, saya menelepon teman saya yang ada di Jawa. Saya minta tolong kepadanya. Tubuh saya semakin dingin dan lemah, kemudian saya menulis kejadian tersebut di buku ini…”.
***
“Huh, Mungkin tulisan itu adalah tulisan terakhirnya. Ternyata Robert menuliskan kisah tragisnya terlebih dahulu sebelum ia di temukan tewas di tengah hutan”, keluhku. Kukerutkan dahi dan menarik nafas, dalam. Kurasakan benar bagaimana seorang Robert yang harus merasakan akhir hayatnya yang begitu naas.
Kubaca sekali lagi cerita terakhir pada buku itu, dan nampaknya ada yang aneh pada kalimat bagian akhir paragrafnya. “Padahal seharusnya ada”. Ya, kalimat itu yang nampaknya menunjukan ada sesuatu yang aneh. Apa maksud dari kalimat itu? Aku tergerak untuk mencari jawaban dari kalimat itu, yang tak lain dengan cara mencari obat penawar racun yang barangkali memang ada di sekitar ruangan itu. Kalimat itu menunjukan kalau obat penawar racun seharusnya ada pada tempatnya, tapi sedikit pun Robert tidak menemukannya. Kucari dan terus kususuri tiap sudut kamar itu, bahkan sampai seisi rumah sekalipun tak jua kumenemukannya. Mungkinkah ada yang memindahkan obat itu ke suatu tempat? Tapi siapa? Lagi pula Robert hanya hidup seorang diri, bahkan tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya di hutan ini.
Keadaan yang belum kuduga sebelumnya. Kasus kematian tragis yang sungguh penuh tanda tanya. Aku berpikir sejenak dan mulai berjalan pelan menuju bagian belakang rumah itu. Terlihat tempat sampah kecil yang terbungkus plastik dengan beberapa gulungan kertas-kertas kecil didalamnya. Terlihat pula kertas kuitansi pembelian obat penawar racun. Surat itu menunjukan bahwa Robert telah membeli sepuluh botol obat penawar racun dari Dr. Thomas pada tanggal 29 April 2007, beberapa bulan sebelum ia menuliskan pengalaman tragisnya ini. Kembali rasa penasaranku mencuat. Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan obat yang begitu banyaknya habis tak tersisa. Sungguh tidak masuk akal.
Dengan membawa selembar kertas kuitansi, kembali kulangkahkan kakiku menuju halaman belakang rumah itu. Dan tepat menurut dugaanku, obat penawar racun itu tidak habis, melainkan dipindah tempatkan. Terlihat lengkap sepuluh botol terbungkus rapi didalam kantong plastik besar warna merah. Botol tersebutlah yang seharusnya ada di lemari obat didalam kamar tuan Robert. Ada seseorang dibalik kematian tuan Robert–pasti. Kuambil kantong itu, kucocokkan tiap botol dengan nomor yang ada pada kuitansi. Angka yang tertera pada botol sama dengan angka yang tertulis pada kuitansi.
Misteri itu terbongkar sudah. Dan seseorang dibalik kematian tuan Robert adalah Dr. Thomas itu sendiri. Setelah diketahui demikian, Dr. Thomas langsung diinterogasi dan dengan tenang mengakui bahawa ia memang sengaja memindah tempatkan obat penawar racun yang telah dibeli tuan Robert darinya. Ia pun menjelaskan bahwa ular yang menggigit tangan tuan Robert adalah ular berbisa mematikan yang sengaja ia beli untuk menyempurnakan kasus pembunuhan ini.
Dr. Thomas sendiri sebenarnya merasa menyesal telah membunuh tuan Robert, karena tuan Robert merupakan pelanggan yang sering memesan perlengkapan berburu atau pun obat-obatan darinya. Oleh karena itu ia rela mengakui apa yang telah ia perbuat terhadap tuan Robert. Dan ternyata yang melatarbelakangi kasus pembunuhan ini adalah rasa cemburu Dr. Thomas setelah mengetahui bahwa tuan Robert merupakan kekasih gelap istrinya.
Kini Dr. Thomas harus menerima ganjaran atas apa yang telah ia perbuat terhadap tuan Robert. Ia dikurung dalam penjara dan harus merasakan pahitnya rasa penyesalan selama seumur hidupnya.

Jogja, Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s