SEPUCUK SURAT MISTERIUS

Posted: 15 Agustus 2010 in cerpen

ANI. TOLONG JANGAN GANGGU KELUARGA SAYA LAGI. JANGAN DEKATI KASAN—SUAMI SAYA. KAMI SUDAH CUKUP BAHAGIA SELAMA INI. KENAPA ANDA BEGITU TEGA MENGGANGGU KEBAHAGIAAN KELUARGA SAYA? APA SALAH SAYA? BAGAIMANA PERASAAN ANDA JIKA BERADA PADA POSISI SAYA. TENTU ANDA JUGA AKAN MERASA SAKIT. SEKALI LAGI SAYA TEGASKAN, KAMI SUDAH CUKUP BAHAGIA. TOLONG JANGAN GANGGU KELUARGA SAYA. JANGAN DEKATI SUAMI SAYA LAGI.
***
Dalam keadaan belum sepenuhnya fit. Dalam pikiran penuh penasaran tentang bagaimana keadaan jabang bayiku. Sepucuk surat muncul membaur mengiringi keadaan lemahku. Maksud surat tersebut menyatu dalam campuran segala pikiran dalam otakku. Apa maksud dari surat itu? Siapa penulisnya? Siapa Kasan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang hendak kutanyakan. Tapi tak tau pada siapa aku akan menanyakannya.
Yang kutahu tulisan itu jelas-jelas dari seorang perempuan. Perempuan yang meminta dengan penuh harap. Berharap agar keharmonisan keluarganya tetap utuh, tak ada yang mengganggu. Tapi kenapa tulisan itu ditujukan kepadaku Ani.¬ Aku tidak merasa mengganggu suami orang. Dan beberapa bulan belakangan ini pun aku tidak sedang dekat dengan laki-laki manapun. Aku hidup sendiri, hanya dengan bayi yang kala itu masih di dalam perutku. Tapi surat itu nampaknya benar-benar untukku. Untuk Ani.
Ah, peduli apa dengan surat tidak jelas itu. Aku sendiri juga tidak merasa kalau surat itu ditujukan padaku. Toh, yang menulis surat itu juga tidak peduli pada keadaanku. Pada keadaan seorang perempuan yang baru saja melahirkan. Kenapa aku mesti memikirkan surat misterius itu?
“Anda sudah sadar rupanya. Usahakan jangan dulu banyak bergerak. Bayi anda lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya laki-laki,” ucap seorang pria setengah baya dengan pakaian putih khasnya. Seorang dokter rupanya. Mukanya dingin, seperti yang kulitku rasakan sekarang. Dingin tersiram udara AC dalam ruangan ini.
“Alhamdulillah. Di mana bayi saya Dok? Apakah saya sudah boleh melihatnya?”
“Anak anda masih dalam proses pengecekan apakah dia sehat-sehat saja atau tidak. Jadi, belum bisa dibawa kemana-mana.”
Dengan sedikit kecewa aku menuruti apa kata dokter itu. Padahal dalam hatiku, aku ingin sekali melihatnya, memeluknya, dan menciuminya. Seperti apa wajahnya? Seberapa tampankah dia? Matanya bulat atau sipit? Hidungnya mancung atau pesek? Apakah dia mirip seperti ayahnya? Tidak. Anakku tidak boleh mirip dengan ayahnya. Meskipun hanya sedikit saja. Dia tidak boleh seperti ayahnya yang tidak punya perasaan dan egois.
Ah, aku kembali mengingat masa itu. Mengingat masa dimana dunia terasa kejam bagiku. Bagi anakku juga tentunya. Kalimat-kalimat terakhir dari pria itu masih sangat jelas kuingat. Kalimat itu yang memisahkan dan memberi jarak antara aku dengannya. Kalimat itu yang kugunakan untuk mengklaim segala tentangnya. Karena kalimat itu pula lah aku menyimpulkan bahwa dunia ini memang kejam. Ketika itu mulut berdosanya dengan santai berkata kalau dia telah menghamili wanita lain. Sementara aku¬¬–istrinya saat itu sedang hamil pula. Tidak hanya itu, dia memintaku untuk merelakannya kawin dengan perempuan yang ia renggut keperawanannya itu. Dari pada harus dimadu, aku lebih memilih untuk bercerai saja. Berpisah dengannya untuk selama-lamanya. Sungguh, tidak punya perasaan sekali dia. Sehingga aku yakin bahwa dunia ini memang kejam bagiku.
Aku merenung sejenak. Meratapi keadaanku. Menyempurnakan kisah sedihku dengan tetesan air mata. Aih, aku teringat kembali akan surat mistrius itu. Jangan-jangan ada hubungannya dengan mantan suamiku—pria yang tak berperasaan itu. Bisa saja surat itu berasal dari istrinya. Tapi mungkin juga tidak. Jelas-jelas aku sudah tidak mengganggunya dan tidak peduli lagi dengannya. Lantas dari siapa lagi kalau bukan dari istrinya itu? Mungkin istrinya takut kalau suatu saat nanti suaminya akan kembali lagi padaku. Kembali pada anakku pula. Meskipun jika itu terjadi aku akan pikir-pikir dulu untuk menerimanya kembali.
Aku terperangkap pada pikiranku sendiri. Pada pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari dalam anganku. Meski sudah kususuri ruang-ruang dalam syaraf otakku, pertanyaan-pertanyaan itu belum juga bisa terjawab. Belum juga kutemui ujungnya. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang bisa kugunakan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, tapi tidak ada elaborasi yang kuat antara kesimpulan yang satu dengan yang lainnya. Semuanya berujung pada kebuntuan. Berujung pada tanda tanya besar.
“Oh iya, tadi ada yang menjenguk Mbak. Dia bilang dia kerabat Mbak. Dia juga menitipkan sepucuk surat. Surat itu saya taruh di samping bantal.”
“Surat ini maksudnya, Dok?” tanyaku. Sambil menyodorkan selembar kertas putih—dengan huruf kapital berwarna merah—kepada dokter.
“Ya, surat itu.”
Penerangan. Penerangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menggelapi pikiranku. Jiwaku semakin tertarik untuk mengusutnya lebih lanjut. Semangatku kembali terbangun. Rasa penasaranku kembali mencuat. Dokter itu datang pada saat yang tepat. Jawaban dari segala tanyaku sepertinya ada padanya. Ada pada keterangan-keterangan yang diberikannya.
“Siapa nama perempuan itu Dok? Bagaimana ciri-cirinya?”
“Namanya Bu Ningsih. Umurnya sekitar 38 tahunan. Ia memakai kerudung. Badannya agak gemuk.”
Aih, semua kesimpulanku salah. Bukan. Perempuan itu bukan Surti—istrinya Paijo mantan suamiku. Surti masih sekitar 28 tahunan, sama sepertiku. Badannya langsing. Langsing badanku pun tak selangsing badannya. Perempuan itu jelas-jelas bukan Surti. Lantas siapa Bu Ningsih itu? Dan apa maksud dari surat yang ditulisnya?
Pikiranku kembali terpecah. Bercabang-cabang. Sesekali memikirkan jabang bayiku. Sesekali memikirkan mantan suamiku. Sesekali yang lain memikirkan surat itu tentunya. Tapi, terlepas dari semua itu, aku mulai membayangkan sesosok pria lain. Pria yang menolongku ketika aku hendak pingsan di pinggir jalan. Wajahnya yang semu mulai mengitari sistem syaraf dalam otakku. Wajah itu terlihat seperti sedang tersenyum simpul padaku. Senyum yang membawa damai. Damai yang membawa tentram. Kemudian aku kembali mengingat kejadian itu. Kejadian yang hampir saja merenggut nyawa bayiku.
***
Dalam sendiri. Dalam siang yang penuh. Dalam panas yang menjamah sekujur tubuhku. Dalam keadaan perut yang buncit sembilan bulan. Menunggu angkutan yang menuju rumah sakit bersalin. Jalan-jalan sepi tidak seperti biasanya.
“Permisi Mas, dari tadi saya tidak melihat angkutan lewat. Kira-kira kenapa ya Mas?”
“O, para supir angkutan lagi pada mogok ngangkut, Mbak. Gara-gara BBM naik,” jawab pedagang kaki lima dengan mimik muka sedikit heran. Entah heran karena apa. Mungkin heran melihatku dengan perut membusung berjalan sendiri tanpa seorang suami. Bisa jadi.
Mau tidak mau. Aku harus berjalan, sedikit mengeluarkan energi untuk menuju rumah sakit bersalin. Mau tidak mau. Berjalan melawan panas matahati yang menyengat. Mau tidak mau. Menggondol bayi yang masih dalam kandungan dan selalu aktif menendang-nendang perutku. Mau tidak mau. Harus mau.
Nampaknya panas matahari lebih kuat dari tubuhku. Jalanan lebih panjang dari sisa tenagaku. Rasa letih lebih menguasai benakku dibanding semangatku. Segalanya menjadi lebih kuat dariku. Menjadikanku kerdil karena kekuatan mereka. Pandangan mataku menjadi sayup. Nafasku terasa semakin berat, sesak. Kakiku mulai tak kuat menyangga badanku dan bayiku tentunya.
“Kenapa, Mbak?” Terdengar suara sesosok pria bertanya. Suara itu terdengar lirih. Entah karena memang lirih atau karena telingaku sendiri yang tak sanggup lagi mendengar dengan total sebab keadaan lemahku.
“Aduh, sakit. Bayiku. Aduh, sakit. Tolong. Tolong.”
Mengerang, mengerang, dan terus mengerang. Yang bisa kulakukan saat itu hanya mengerang kesakitan. Tidak lebih. Tubuhku semakin berat. Kakiku kali ini benar-benar tidak kuat lagi menyangga tubuhku. Kali ini benar-benar terjatuh. Tapi tidak pada permukaan kasar. Tidak pada jalanan beraspal yang terbakar panas matahari. Ada yang menyangga tubuhku. Tubuh beratku tepatnya. Tangan seseorang itu yang menopangku, nampaknya. Kemudian dia mengangkatku ke tempat teduh yang jauh dari sengat matahari penuh.
“Mbak sepertinya sudah siap melahirkan. Harus segera dibawa ke rumah sakit bersalin.”
Itu kalimat terakhir yang bisa kudengar dari pria itu. Dari sesosok pria yang menolongkku. Pria yang menyangga tubuhku sebelum terjatuh. Pria yang nampaknya paling peduli terhadapku kala itu. Aku berharap saat itu mantan suamiku lah yang menolong. Orang yang paling bertanggung jawab terhadapku dan anakku tentunya.
***
Siapa sesosok pria itu? Siapa pria yang menolong dan menyelamatkan nyawa jabang bayiku? Apakah dia kenal padaku? Pertanyaan-pertanyaan baru muncul dalam pikiranku. Menggedor-gedor dinding syaraf otakku. Pertanyaan-pertanyaan itu tersusun rapi dalam otakku. Seperti susunan meja, tempat tidur, dan tempat duduk bagi penjenguk yang juga tersusun apik dalam ruangan ini. Meja dari kayu yang berwarna cokelat itu seperti tak pernah letih menyenyumiku. Begitupun kursi yang tersedia bagi penjenguk terlihat cerah dengan warna cokelat mudanya, terlihat seperti merayakan atas kelahiran bayiku. Tak lupa pula warna hijau muda yang melapisi seluruh dinding dalam ruangam ini pun terlihat fresh, menjadikanku tenang dan damai, meski banyak pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab dalam benakku.
“O ya Dok, siapa yang menolong dan membawa saya kesini?” tanyaku dengan penuh perasaan dan penuh harap. Berharap dokter tersebut tahu siapa yang menolong dan membawaku kesini.
“Namanya Pak Kasan. Beliau yang membawa Mbak kesini. Selain itu, beliau juga yang melunasi semua biaya administrasi selama proses Mbak melahirkan. Setelah itu beliau langsung pergi. Dan sampai saat ini beliau belum juga kembali.”
“Alhamdulillah…” Syukurku. Terima kasih ya Allah. Engkau masih memberi kemudahan pada hambamu yang sedang susah ini. Tak dapat lagi kutahan perasaan haruku. Mataku terasa seperti berkaca-kaca. Hendak meneteskan air mata. Tapi bukan air mata kesedihan atau pun kedukaan tentunya. Melainkan air mata kebahagiaan. Sungguh mulia orang itu. Siapa dia? Dia hadir seperti malaikat bagiku. Terima kasih Pak Kasan.

Komentar
  1. ramlannarie mengatakan:

    salam kenal,,,,,,, kunjujungan balik ditunggu

  2. mutayas mengatakan:

    aku nggak baca sampai selesi hahhaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s