SURPRISE!!!

Posted: 15 Agustus 2010 in cerpen

Susana malam. Langit yang beberapa saat lalu terhias garis merah sisa cahaya matahari kini telah gelap kembali. Seperti langit sebelum hari ini. Bebintangan malam layak bocah-bocah lugu, mengintip keberadaan kita. Keberadaan kau dan aku.
Kau tak terlihat menikmati malam ini. Kau hanya diam membatu. Tak jauh berbeda dengan bebatuan sebenarnya batu. Aku mengawali kehangatan kita dengan mencoba memanggilmu mesra, “Honey”. Kau hanya membalas dengan sebuah lirikan kedua matamu. Ah, kau masih saja bertahan dengan sikap membatumu. Marahkah kau padaku? Tapi kenapa?
“Honey, kamu kenapa? Kamu marah sama aku?” Ucapku dengan lembut dan penuh harap. Berharap kau mau berbicara meski hanya beberapa kata yang terucap.
“Gak apa apa”. Aih, benar saja. Kau hanya mengucap beberapa kata saja. Dan kata itu pun belum bisa kumengerti apa maksudnya. Perkataan dan keadaanmu bertolak belakang. Ada sesuatu yang kau sembunyikan dalam hatimu. Dalam pikiranmu juga, mungkin.
Aku tak memaksamu dengan tanyaku lagi. Aku akan mencari jawaban sendiri atas tanyaku padamu. Kupegang dagumu hendak menghadapkan wajah manismu ke arahku. Kutatap matamu, dalam. Kutemukan pintu masuk dalam hatimu, aku masuk ke dalamnnya. Kemudian mulai menyusuri setiap lorong yang ada. Tapi, sama sekali tak kutemui jawaban tentang tanyaku. Yang ada hanya samar-samar namaku yang terukir pada setiap dinding lorong dalam hatimu. Tapi, kenapa namaku hanya berkesan samar-samar?
“Honey, kamu kenapa sih? Kalau ada masalah cerita dong sama aku”. Aku menyerah. Aku tak bisa temukan sendiri jawaban atas tanyaku padamu. Sebab hanya kau sendiri yang tau.
“Kamu sudah gak sayang lagi sama aku, ya?”
Aih, kau tiba-tiba menodongku dengan sebilah pisau runcing yang kau ubah menjadi sebuah pertanyaan. Tajamnya tanyamu seperti tajamnya sebilah pisau. Tak salahkah kau bertanya demikian? Ada apa ini? Aku diam sejenak. Berpikir.
“Kamu diam, Romi. Berarti tandanya iya, kamu sudah gak sayang lagi sama aku. Sampai-sampai hari ulang tahunku pun kamu lupa. Kenapa Romi? Aku sayang banget sama kamu. Aku gak mau pisah sama kamu ”, kau mencoba menyudutkanku. Meskipun pada dasarnya aku tidak merasa tersudutkan.
Ah, jadi itu yang menjadikanmu membatu. Itu pula yang menjadikan tulisan namaku di hatimu berkesan samar-samar. Tapi, seketika itu aku merasa lega. Aku bahkan merasa telah menang.
Aku bersikap seolah-olah tak mengindahkan kata-katamu. Aku masih terdiam, kecuali jarijemari tanganku yang kugerak-gerakkan mengetik tombol pada hapeku. Kuketikkan sebuah kata, sebuah aba-aba persisnya. ‘Sekarang’. Kata itu kukirimkan kepada temanku via pesan singkat.
Kau menyusulku terdiam. Kau kembali mengeluarkan jurus membatumu. Seketika tak ada gerak antara kau dan aku. Yang membedakan hanya raut muka kita berdua. Mimik mukamu pertanda resah dan penuh harap. Sedang raut mukaku pertanda bahagia dan puas. Kenapa? Ah, hanya aku yang tau kenapa aku terlihat bahagia dalam kondisi demikian.
“Maaf, Mbak. Ada sesuatu buat Mbak, dari seseorang yang gak dikenal”, kata seorang bocah kecil yang datang tiba-tiba menyela diantara kita berdua. Bocah usia delapan tahunan itu memberikan sepucuk surat kepadamu. Kau sontak merasa kaget. Surat dari siapa? Pikirmu dalam hati, mungkin. Kau buka surat itu dengan perlahan. Kau baca setiap kata yang tertulis di dalamnya:
“Demi rembulan yang bersaksi tentang hati yang tlah terikat
Aku ingin menjadikanmu pendamping tokoh utama pada sisa cerita kehidupanku
Kusisipkan di dalamnya beberapa tokoh lain serupa bocah yang riang menari dalam candanya
Mereka adalah buah hati yang ada karena kita
Mereka akan menjadikan kisah kita tak berujung dengan episode-episode yang kelak mereka buat pula, samahalnya sepertiku
#
Honey, jadilah yang pertama kulihat ketika pertama kubuka mata setelah lelapku…
Surprise… honeyku tercinta, selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur dan selalu diberi yang terbaik oleh yang di atas. Aku akan selalu mencintaimu. Oleh karena itu, aku ingin sekali mengikatmu dengan sebuah ikatan suci. Tapi, aku ingin kita bertunangan saja dulu”.

Ttd,

“Seseorang yang duduk di sampingmu.”

Aku sengaja memberimu kejutan. Aku mencoba mencari tahu sejauh mana rasa sayangmu kepadaku. Dan kini aku telah semakin yakin padamu. Kamulah yang nantinya akan menjadi sosok istri bagiku. Dan kita akan selalu bersama dalam satu ikatan, cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s