RINGKASAN PEMBACAAN BUKU E.ULRICH KRATZ

Posted: 1 April 2011 in Kuliah, sastra

– Judul artikel : Menjelami Laoetan Kesoesteraan
– Penulis : Anggia Murnie
– Sumber artikel : Hal. 88 – 103
– Ringkasan Artikel :
Sepantun kembang mula mengorak. Demikianlah asal mula bahasa kesusastraan tumbuh di tanah air kita. Dalam masa itu dunia persurat kabaran sedikitnya telah dapat dibanggakan. Segi itulah yang berjasa dalam peristiwa ini, yaitu dalam menciptakan bahasa Indonesia. Kemudian mulai tumbuh persoalan ekonomi, sosial, politik. Akan tetapi yang terpokok dan terutama soal bahasalah yang lebih dimajukan.
Bahasa adalah suatu alat dan perkakas untuk mengeluarkan dan menyampaikan apa yang terasa dalam hati dan apa yang tergores dalam dada. Dari bahasa inilah keluarnya kesusastraan. Kesusastraan adalah seni bahasa. Sedangkan seni berarti keindahan dan kehalusan yang diciptakan oleh insani. Kesusastraan itu ada yang berupa puisi dan ada juga yang berupa prosa baik yang berupa sajak atau bukan. Perbandingan ahli-ahli sastra yang muncul dapat kita lihat seperti Surapaty, Hr. Bandaharo, Rifai Ali, A. hasjmy dll. Kemudian kesusastraan dipakai untuk memperbagus dan memperindah bahasa. Adapun yang menyematkan hikmat dan falsafat, semangat dan ketuhanan adalah tujuan dan maksud yang ke-2.

– Judul Artikel : Musyawarah Seniman dan Budayawan Islam
– Penulis : –
– Sumber Artikel : Hal. 475 – 480
– Ringkasan Artikel :
Musyawarah tersebut menghasilkan empat keputusan, yaitu 1) Wujud Kebudayaan, terdiri dari dua poin, yaitu pengertian Kebudayaan dan Kebudayaan Islam. 2) sikap Islam terhadap Kebudayaan dan Kesenian, berisikan tentang tujuan Kebudayaan dan Hukum Kesenian. 3) pendirian Budayawan/Seniman Islam Indonesia terhadap gerakan Kebudayaan/Kesenian, berisikan tekad Budayawan/Seniman terhadap gerakan Kebudayaan dan Kesenian. 4) Daftar Usaha-usaha memperkembang Kebudayaan/Kesenian, brisikan perihal tentang pendokumentasian dan registrasi, pemeliharaan Kebudayaan/Kesenian, presentasi (penghidupan) Kebudayaan/Kesenian, dan Kreasi-kreasi baru dalam bidang Kebudayaan/Kesenian.

– Judul Artikel : Buku-buku yang dilarang
– Penulis : Lukman Ali
– Sumber Artikel : Hal. 561 – 574
– Ringkasan Artikel :
Pada saat itu banyak pertanyaan dari guru-guru Bahasa Indonesia kepada Direktorat Bahasa dan Kesusastraan mengenai pelarangan buku-buku Kesusastraan Indonesia dalam bidang pengajaraan Kesusastraan. Dan terdapat beberapa penjelasan mengenai pertanyaan tersebut, 1) pada tgl 30 November 1965 Menteri Pendidika Dasar dan Kebudayaan mengeluarkan Instruksi pelarangan menggunakan buku karangan Ormas/Orpol yang di bekukan sementara masa kerjanya dan buku-buku karangan Ormas/Orpol ‘G 30 S’ yang bertemakan mental Ideologis. Tedapat 70 judul buku dan 87 nama yang dilarang. 2) pada bulan Maret 1967, di umumkan pula pelarangan buku-buku Luar negeri yang mengandung unsure Komunisme, Marxisme-Leninisme, Marxisme-Mao tse tung-isme. Terdapat 174 judul buku yang dilarang. 3) mulai bulan Juni 1966, buku-buku tersebut boleh dipakai dan dimiliki kembali asalkan tidak tidak bertentangan dengan Falsafah Pancasila.

– Judul Artikel : Peranan Balai Pustaka Dalam Perkembangan Bahasa Indonesia
– Penulis : Nur St. Iskandar
– Sumber Artikel : Hal. 5 – 14
– Ringkasan Artikel :
Balai Pustaka (volkslektuur) didirikan oleh Gubernur Hindia Belanda di Jakarta pada 1908. Tujuan di dirikannya yaitu agar orang Indonesia pandai membaca. Kemudian Balai pustaka membentuk Komissie Voor De Volkslektuur untuk memeriksa dan meneliti karya tulis yang di kirimkan tiap-tiap orang kepada Balai Pustaka. Komisi tersebut terdiri dari orang-orang Belanda dan pegawai Pemerintah Indonesia, komisi ini diketuai oleh kepala Balai Pustaka sendiri. Pada tahun 1920 Balai Pustaka menerbitkan majalah tentang Ilmu Pengetahuan dan Volksmanak yang diberi nama Sri Pustaka. Banyak juga tokoh Indonesia yang menyemarakkan penerbitan Balai Pustaka, seperti H. A. Salim, Dr. Soetomo, A. Moeis dan Muh. Yamin.

– Judul Artikel : Angkatan 45
– Penulis : Sitor Situmorang
– Sumber Artikel : Hal. 147 – 152
– Ringkasan Artikel :
Pada masa sebelum angkatan 45 di terima, angkatan 45 sangat di asingkan orang. Termasuk Jogaswara dan Armijn Pane, mereka bmenganggap bahwa Angkatan 45 tidak pernah ada. Jogaswara juga menyimpulkan bahwa Sastrawan Indonesia itu harus melahirkan kesusastraan-kesusastraan yang Demokratis. Oleh karenanya penulis membandingkan konsepsi seni menurut Affandi dan Chairil Anwar. Konsepsi Affandi yaitu bahwa seni merupakan Humanisme (diri merupakan satu dengan sekelilingnya). Sedangkan Chairil Anwar beranggapan bahwa seni itu Human-Dignity (kesadaran persatuan yang menitik beratkan pada diri sendiri). Kemudian penulis membandingkan Angkatan Chairil Anwar dengan Angkatan Takdir. Angkatan Chairil Anwar tidak mempunyai Pandangan hidup tetapi menunjukan sikap hidup. Sedangkan Angakatan Takdir mempunyai pandangan hidup, bahwa sastra merupakan warisan dari zaman dahulu. Angkatan Chairil Anwar merupakan angkatan pencipta bukan angkatan yang hanya menerima.

– Judul Artikel : Fragmen keadaan III
– Penulis : Asrul Sani
– Sumber Artikel : Hal. 210 – 215
– Ringkasan Artikel :
Pada ecara pertemuan di Tugu, Asrul Sani ditanya mengenai isi Angkatan 45 dan perbedeaannya dengan Angkatan Pujangga Baru. Asrul Sani merasa tidak layak berbicara mengenai hal tersebut karena perkataannya mungkin bersifat menurut kehendak sendiri. Kemudian muncullah perbandingan antar Angkatan 33 dan Angkatan 45. Pergeseran dari Angkatan 33 dan 45 adalah karena Idealisme palsu, Sentimentalisme, dan pandangan yang berbeda. Angkatan 45 menganggap Angkatan 33 bukan merupakan kesustraan karena keterbatasan dalam hal tokohnya. Kekurangan pada Angkatan 33 bukan merupakn pembeda dengan Angkatan 45, akan tetapi merupakan sebuah ciri/tipe tersendiri.

– Judul Artikel : Roman Pitjisan
– Penulis : Tamar Djaja
– Sumber Artikel : Hal. 304 – 312
– Ringkasan Artikel :
Orang yang pertama kali menggunakan kata Pitjisan adalah Parada Harahap. Kala itu terjadi perselisihan antara Harahap dan Ratu Mona, sehingga Harahap mengecap Ratu Mona sebagai pengarang kodian dan karangan-karangannya di cap sebagai Roman Pitjisan tidak berharga. Kenapa roman tersebut bisa disebut sebagai Roman Pitjisan, karena : 1) karena cerita tersebut merupakan cerita pendek yang diperpanjang. 2) Isinya tidak begitu padat dan sangat dangkal. 3) Di karang dengan tergesa-gesa. 4) Tebalnya rata-rata hanya 80 halaman. 5) Ceritanya tidak tentu arah, tujuan dan isinya tidak jelas. Roman pertama kali tenrbit di Medan “Dunia Pengalaman” di bawah pimpinan A. Damhari dan Jsuf Souyb, diterbitkan oleh “Pustaka Islam”. Kemudian karya tersebut mendapat kritikan dari sk. “pemandangan” karena cerita Roman Pergaulan terlalu melebih-lebihkan akibat dari penyakit Syphilis yang ditulis dalam roman tersebut. Juga mendapat reaksi dari Perti, yaitu akan membakar buku tersebut, membacakan Qunut bagi orang yang bersangkutan dengan buku tersebut dan mengadukan buku tersebut kepada Resident Padang.

– Judul Artikel : INDONISASI TJILIWUNG 1
– Penulis : Mh. Rustandi Kartakusuma
– Sumber Artikel : Hal. 393 – 399
– Ringkasan Artikel :
Pada tahun 1930 lahirlah Angkatan Pujangga Baru. Semboyan mereka yaitu, “Kita harus Dinamis! Tradisi kita telah usang dan lapuk! Kita harus menggantinya dengan cara hidup baru”. Mereka mengusung Budaya barat sebagai dasar kesustraan mereka. Diantaranya yaitu Takdir. Dan tokoh yang kontra dengan pemahaman itu adalah Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Akan tetapi Takdir bersikukuh akan pandangannya bahwa kesustraan Indonesia harus meniru Budaya Barat, terutama Belanda. Karena pemikiran yang seperi itulah Angkatan Pujuangga Baru tidak bertahan lama yang kemudia timbul Angkatan 45, yang di usung Chairil Anwar dkk, dengan pandangan bahwa kesustraan Indonesia harus menjadi kesustraan Internasionalisme.

– Judul artikel : Jagat Jawa Seharusnya di Tulis dalam Bahasa Jawa
– Penulis : Soebagio Satrowardoyo
– Sumber artikel : Hal. 835-855
– Ringkasan Isi Artikel :

Pada periode ini banyak Sastrawan berpindah kepengarangannya dari penggunaan bahasa daerah secara mutlak menuju penggunaan bahasa Indonesia. Dapat pula di simpulkan bahwa seorang pengarang meninggalkan bahasa daerahnya dan menulis di dalam bahasa Indonesia di karenakan dua hal : yang pertama, dalam lingkup kehidupan/kepekgarangannya Ia sudah tidak terbiasa menggungakan bahasa daerah semisal bahasa jawa. Sedangkan yang kedua, agar karyanya bisa di nikmati secara luas oleh semua pihak, dari pada ia mengarang dalam bahasa daerah.
Dengan demikian ke-2 alasan pokok tersebut mempunyai pijakan untuk membicarakan soal pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra jawa serta penunjangya. Sedangkan lingkup Indonesia merupakan lingkup kesustraan yang bisa menerima kesustraan lain dari berbagai daerah. Dengan mempertimbangkan luas public yang terbatas yang mengenal bahasa jawa, menjadi maklum bahwa timbul keinginan pada pengarang jawa untuk beralih ke bahasa Indonesia.
Masalah yang akan di hadapi oleh pengarang daerah yang berpindah gaya bahasanya yaitu karyanya agak susah di terima. Seperti halnya puisi linus yang berjudul Pariyem, di dalamnya tidak hanya menggambarkan dunia batin yang terdapat pada seorang wanita jawa, tetapi juga membicarakan lingkungan masyarakat jawa dengan adat istiadat yang ada di dalamnya.

– Judul Artikel : NOVEL-NOVEL POPULER INDONESIA
– Penulis : Jacob Sumardjo
– Sumber Artikel : Hal. 668 – 687
– Ringkasan Artikel :
Pada masa itu terbit empat buku yang misinya membicarakan mengenai Novel-novel di Indonnesia. Buku tersebut yaitu Ikhtisar Sejarah Sastra Indonnesia (Ajip Rosidi), Pokok dan Tokoh (A.Teeuw), Perkembangan Novel-novel Indonesia (Umar Jenus) dan Sejarah Sastra Indonesia Modern (Bakrie Siregar). Pada masa itu pula terhitung 650 buku yang masuk ke Balai Pustaka, termasuk Novel picisan yang sangat banyak terbitnya. Akan tetapi buku tersebut kurang di minati karena harga buku yang sangat mahal dan isinya terlalu vulgar. Juga di karenakan karena proses penerbitannya yang terburu-buru dan tidak mementingkan kualitas buku itu sendiri. Novel-novel yang sangat di gemari pada masa ini yaitu novel yang bertemakan silat, oleh karenanya lebih banyak laki-laki yang antusias membacanya tinggi. Dan dalam tiap-tiap buku yang bertemakan silat tokoh utamanya selalu laki-laki. Akan tetapi pada tahun 1972 terjadi Revolusi, muncul sebuah buku karya Marga.T yang berjudul ‘Karmila’, yang di dalam buku tersebut tokoh utamanya adalah seorang perempuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s