PERBANDINGAN NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL” KARYA NAWAL EL-SAADAWI DENGAN FILM “JAMILA DAN SANG PRESIDEN”

Posted: 6 Februari 2012 in Kuliah, sastra

Abstrak
Makalah ini membahas mengenai perbandingan antara dua karya berbeda jenis, yaitu Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi dengan Film “Jamila dan Sang Presiden” yang memiliki banyak kemiripan dari segi alur konfliknya. Tujuan analisis kedua karya tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana kemiripan dan mengetahui hubungan keterkaitan antara kedua karya tersebut. Caranya yaitu dengan memahami isi kedua karya tersebut, kemudian menganalisis titik mirip keduanya secara keseluruhan dan bagian-bagian tertentu. Kemiripan yang paling sering dijumpai diantara dua karya tersebut adalah dalam hal alur konfliknya. Dari mulai permulaan konflik yang digambarkan hampir sama, lalu konflik utama dan konflik pendukung yang sama, serta penyelesaian konflik yang juga relatif sama. Akan tetapi, kesamaan tersebut bukan merupakan persamaan yang diambil secara langsung, karena faktor analogi. Meskipun tidak menutup kemungkinan kalau Film “Jamila dan Sang Presiden” bisa saja terinspirasi dari Novel “Prempuan di Titik Nol” yang lebih dulu diciptakan.

PEDAHULUAN
Karya sastra lahir akibat adanya proses kreatif seorang pengarang dalam menanggapi keadaan di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra terkadang dapat mewakili kehidupan yang nyata. Adapun salah satu definisi sastra menurut Wellek dan Warren via Wiyatmi (2006: 14) karya sastra merupakan karya imajinatif. Sedangkan Atar Semi (1993:8) mengemukakan bahwa sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia, di samping itu sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia.
Karya sastra, apa pun jenis atau genre-nya, yang lahir dari tangan kreatif pengarang, pada dasarnya selalu berada di tengah-tengah konteks atau tradisi kebudayaannya. Atau dengan kata lain, bagaimanapun karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teeuw, 1980:11). Proses kreatif pengarang sendiri sangat besar pengaruhnya dalam pembuatan karya sastra. Biografi pengarang, keadaan sosial pengarang, kondisi psikologi pengarang, pandangan hidup pengarang, dan sebagainya akan mempengaruhi arah karya sastranya akan dikemanakan. Karena pengarang berperan sebagai penyampai pesan kepada pembaca melalui karyanya. Kondisi tersebut menjadikan perbedaan tanggapan tiap-tiap pengarang dalam memahami sumber objeknya (kehidupan nyata). Akan tetapi, dapat pula terjadi kesamaan sifat karya sastra dari hasil kreatif pengarangnya sehingga terkadang pengarang yang satu memiliki hubungan secara langsung dengan karya pengarang lainnya.
Disiplin ilmu yang membandingkan antara dua karya yang setidak-tidaknya relatif mirip adalah sastra perbandingan. Ada banyak pendapat para ahli dalam merumuskan teori mengenai sastra perbandingan. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal.
Menurut Holman, sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya. Hal senada dikemukakan Remak yang mengungkapkan sebagai berikut: “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sastra perbandingan adalah ilmu yang studi sastra yang membandingkan antara dua buah karya dari dua wilayah berbeda guna menemukan hubungan terkait konteksnya.

METODE PENELITIAN
Objek penelitian pada makalah ini adalah dua buah karya yang berbeda jenis, yaitu membandingkan antara Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi dengan Film “Jamila dan Sang Presiden.”
Faktor yang melatarbelakangi dibandingkannya antara dua karya tersebut adalah karena keduanya memiliki kesamaan dalam segi alur ceritanya. Terlebih karakter budaya bangsa tempat dimana dua karya tersebut dilahirkan relatif sama, mayoritas beragama islam. Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi dari Mesir sedangkan Film “Jamila dan Sang Presiden” dari Indonesia. Selain itu, Indonesia dan Mesir juga termasuk ke dalam pengelompokkan bangsa yang sama, yaitu bangsa yang masih dalam taraf berkembang. Kondisi itulah yang menjadi faktor utama dalam menentukan persamaan sifat antara kedua karya tersebut.
Metode yang digunakan pada makalah ini adalah metode kualitatif induktif, yaitu dengan cara mengetahui dan memahami keseluruhan ceritanya. Setelah itu barulah ditentukan titik kemiripan antara dua karya tersebut. Selanjutnya menentukan sebuah kesimpulan hubungan antara keduanya.

PEMBAHASAN
Sinopsis Novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El-Saadawi
Novel The Woman at Point Zero (Perempuan Di titik Nol) menceritakan tentang kehidupan Firdaus—seorang perempuan Mesir yang kuat. Kuat dalam artian berani mengatasi rasa takut yang selalu membelenggu kehidupannya.
Berawal dari kisah keluarganya yang hidup sederhana bahkan terkadang kekurangan dalam hal materi. Keadaan seperti itulah yang kemudian memaksa mereka berfikir menurut tuntutan kehidupan. Ayahnya tidak segan berbuat kasar terhadapnya. Oleh karena itu, ia lebih cenderung dekat dengan pamannya. Akan tetapi, keadaan seperti semakin menjadikan semuanya serba mengherankan. Pamannya yang seorang pelajar di El-Azhar Kairo terkadang berbuat semena-mena terhadapnya (Menjamahi tubuh mulus Firdaus).
Selang berjalannya waktu, Firdaus ikut bersama pamannya. Ia diasuh dan dijamin masa depannya oleh pamannya di Kairo. Hal itu berlangsung sampai ia lulus sekolah menengah. Setelah itu, ia dijodohkan dengan seorang Syeikh (Mahmoud) kenalan pamannya. Ia menjadi istri seorang Syeikh tua berumur enampuluhan tahun. Ia mulai merasa tidak betah tinggal bersama suaminya yang juga bersikap keras terhadapnya. Ia lalu kabur tak tentu arah.
Setelah itu ia bertemu dengan Bayoumi. Bayoumi terlihat sangat ramah padanya. Terlebih ketika ia (Firdaus) diajak untuk ikut bersamanya sampai ia memperoleh pekerjaan. Akan tetapi, nasib malang kembali menimpanya setelah ia tahu bahwa Bayoumi tidak lebih dari bajingan yang menginginkan tubuhnya. Bahkan, Bayoumi menjual tubuh Firdaus kepada temannya. Kemudian ia pergi dari jeratan Bayoumi dan teman-temannya.
Di setiap kepergiannya, ia selalu memilih ke sebuah jalan raya yang ia anggap sebagai tempat teraman. Dan di tempat itulah ia kemudian bertemu dengan Sharifa (pelacur yang berpengalaman). Dari situlah kehidupan Firdaus mulai terasa nyaman meskipun pada akhirnya ia menjadi seorang pelacur dibawah naungan Sharifah. Ia mulai benar-benar mengenal siapa itu laki-laki dan bagaimana gerak geriknya. Sehingga reputasinya menjadi seorang pelcur semakin meningkat.
Waktu terus berputar, Firdaus pun sudah tidak lagi melacurkan tubuhnya. Ia mulai bekerja sebagai karyawan di sebuah perkantoran. Kehidupannya mulai stabil. Di tempat itu, ia mulai menemukan seseorang yang ia cintai, Ibrahim namanya. Awalnya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, terdengar kabar bahwa Ibrahim sudah bertunangan dengan putrid direktur dan menghilang entah kemana.
Empat tahun kemudian ia bertemu dengan Ibrahim yang sudah menjadi istri orang lain. akan tetapi, Ibrahim ternyata tidak jauh berbeda dengan laki-laki yang pernah ia kenal. Ia kini menganggap bahwa Firdaus adalah seorang pelacur. Setelah itu, Firdaus kembali menjadi seorang pelacur. Karirnya sebagai pelacur kembali meningkat. Pada saat itu ia hanya menerima berkencan dengan orang-orang tertentu saja.
Datangnya Marzouk (seorang germo) mengusik ketenangan hidupnya. Posisi Marzouk disini samahalnya dengan Sharifah, menjual tubuh Firdaus untuk kepentingannya sendiri. Hingga pada suatu hari Firdus bersitegang dengan Marzouk dan membunuhnya dengan kejam.
Setelah kejadian itu, ia bertemu dengan seorang Pangeran Arab yang juga hanya menginginkan tubuhnya. Setelah memuaskan nafsu si pangeran, Firduas mencelakainya. Firdaus kemudian di penjara. Ia mendapat ancaman hukuman mati. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak meresa takut atupun menyesal. Justru ia bangga pada dirinya, karena sudah menaklukan keberanian terbesar dalam hidupnya, yaitu melawan ketakutannya sendiri.

Sinopsis Film “Jamila dan Sang Presiden”
Film Jamila dan Presiden menceritakan mengenai kehidupan seorang pelacur. Jamila namanya. Ia merupakan korban human trafficking. Ia sudah dijual oleh orang tuanya sendiri kepada keluarga kaya ketika masih berumur dua tahun. Mulai dari situlah ia pertama kali diperkosa. Karena keberaniannya melawan ketertindasan, Jamila memutuskan untuk membunuh yang memerkosanya lalu kabur.
Selang beberapa waktu, ia mulai menjadi PSK setelah diajak Susi (PSK yang baik). Kehidupannya mulai mapan. Setelah itu, ia mengenal seorang pejabat negara (menteri), Nurdin namanya. Karena Jamila memiliki banyak kelebihan, ia pun diberikan perlakuan khusus oleh Nurdin. Apapun yang Jamila minta pasti dipenuhi olehnya. Akan tetapi, perlakuan khusus itu berujung menyakitkan. Setelah menghamili Jamila, Nurdin menikah (dinikahkan) dengan perempuan lain. Kondisi tersebut memicu Jamila untuk balas dendam mengganggu kehidupan Nurdin. Sampai pada akhirnya dengan tidak sengaja, Jamila membunuh Nurdin dengan pistol.
Karena mengalami tekanan batin yang kuat, Jamila mengakui telah membunuh Nurdin. Ia dituntut hukuman mati oleh pengadilan. Dari dalam penjara ia bercerita panjang lebar mengenai liku-liku kehidupannya kepada kepala sipir penjara dan Ibrahim (orang yang mencintainya). Berbagai cara Ibrahim lakukan untuk meringankan hukuman yang diterima Jamila. Akan tetapi, semua usaha itu sia-sia saja. Jamilah tetap dihukum mati.

Identifikasi Titik Mirip
Untuk menghindari ketidakfokusan dalam meneliti, perlu diadakannya batasan permasalahan yang dibahas. Permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini meliputi 1) tema, 2) alur, 3) penokohan. Melalui pembahasan mengenai titik mirip itulah kemudian ditafsirkan sejauh mana tingkat kemiripan antara Novel “Perempuan di Titik Nol” (PTN) dengan Film “Jamila dan Sang Presiden” (JSP).
1. Tema
Tema yang disajikan oleh Novel PTN dengan Film JSP dapat dikatakan sama persis. Keduanya membicarakan mengenai liku-liku hidup seorang pelacur tegar, seperti yang telah digambarkan melalui kutipan sinopsis diatas.
Kedua cerita tersebut setidaknya mengandung aliran feminisme, dimana posisi perempuan (tokoh utama) sangat diagungkan meskipun di wilayah yang salah (pelacur). Kedua pengarang menganggap bahwa pelacur tidak semuanya jelek. Karena adapula pelacur yang memang dari dia dilahirkan sudah dijerumuskan oleh lingkungan ke dalam dunia pelacuran seperti Firdaus dalam PTN dan Jamila dalam JSP.
Pengarang mencoba melawan tanggapan masyarakat pada umumnya mengenai pelacur. Kedua pengarang menganggap pelacurpun bisa berbuat baik dan benar, bahkan tidak jarang dari mereka yang berbuat bak seorang pahlawan. Oleh sebab itulah, kedua pengarang ingin memberikan pencerahan baru terhadap pandangan masyarakat yang selalu jelek menilai pelacur.
2. Alur
Alur cerita yang disajikan kedua karya tersebut relatif sama. Dari mulai pengenalan konfliknya, inti konfliknya, sampai penyelesaiannya. Dari segi kesamaan alur ceritanya lah yang kemudian menimbulkan tanggapan bahwa mungkin Film JSP bersumber dari Novel PTN. Pada Novel PTN, ceritanya dibuka dengan cerita nyata seorang dokter yang tersentuh untuk mengenal lebih jauh tentang tokoh utama (Firdaus). Sedangkan pada Film JSP ceritanya dibuka dengan kegiatan Human Trafficking oleh sekumpulan orang. Memang sangat jauh berbeda kalau dari segi pembukaan ceritanya. Akan tetapi, pada bagian pengenalan konfliknya, kedua karya sama-sama memaparkan kehidupan semasa kecil tokoh utamanya yang kelam.
Kedua karya sama-sama menjelaskan bahwa semasa kecilnya kedua tokoh utama sama-sama harus berpisah dengan ibu kandungnya, meskipun alasnannya berbeda. Pada Novel PTN, Firdaus harus berpisah dengan ibunya karena ia harus tinggal bersama pamannya ke kota. Sedangkan Jamila dalam JSP harus berpisah dengan ibunya supaya terhindar dari kasus penjualan manusia, sehingga ia pun akhirnya hidup dengan keluarga lain. Setelah itu, kedua tokoh utamanya sama-sama mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari lingkungan terdekatnya. Firdaus menjadi korban pelecehan seksual oleh pamannya. Seperti pada kutipan cerita di bawah ini:
“saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya… sampai paha”
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 20)
Sedangkan Jamila mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh oleh majikan dan anaknya lewat adegan bagaimana pantat Jamila diremas oleh majikannya ketika ia sedang menuangkan minuman ke dalam gelas majikannya. Tidak hanya itu, adapula adegan dimana Jamila diperkosa oleh anak majikannya.
Pada bagian konflik intinya, Novel PTN memaparkan kehidupan Firdaus yang semakin tidak jelas. Ia seperti selalu dimangsa kebengisan kaum pria yang hanya ingin menikmati tubuhnya. Meskipun demikian, ia selalu tegar sehingga kehidupannya berangsur membaik. Ia mulai menikmati kehidupannya sebagai seorang pelacur kelas atas. Hingga pada akhirnya ia terlibat kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap orang penting. Ia pun harus menerima hukuman seberat-beratnya.
Begitu pula pada Film JSP yang juga mengandung konflik ini dimana tokoh utamanya (Jamila) mulai menikmati kehidupan melacurnya. Kehidupannya semakin membaik ketika ia bertemu dengan Nurdin (seorang menteri). Ia pun dijanjikan segala hal oleh Nurdin. Akan tetapi, karena satu faktor, Jamila secara tidak sengaja membunuh Nurdin. Akhirnya ia pun dihukum seberat-beratnya, hukuman mati.
Pada penyelesaian konfliknya, kedua karya tersebut masih memiliki kesamaan. Jamilah dan Firdaus sama-sama tidak pernah menyesali atas apa yang pernah ia perbuat dan sama-sama dihukum mati.
“Sekarang saya sedang menunggu mereka. Sebentar lagi mereka akan datang menjemput saya (untuk dieksekusi).”
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 148)
Dapat disimpulkan dari data di atas, bahwa dari segi alur cerita dan konflik yang terkandung di dalamnya, Novel PTN dan Film JSP memiliki kesamaan. Tingkat kesamaannya pun bahkan mengindikasikan bahwa Novel PTN menginspirasi adanya Film JSP.

3. Penokohan
Novel PTN menggambarkan mengenai kekuatan batin seorang pelacur. Istilah pelacur sendiri dianggap sangat hina oleh masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat akan selalu menganggap bahwa mereka sendiri lebih mulia dari para palacur. Akan tetapi, ada penafsiran yang sangat berbeda dengan penafsiran terhadap pelacur pada umumnya. Seperti pada kutipan di bawah ini:
Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan, termasuk saya.
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 109)
Kondisi teresbut tentunya bermula dari penafsiran pengarang yang digambarkan melalui watak tokoh utamanya. Dari sisi itu, pelacur merasa tidak lebih rendah dari orang-orang pada umumnya, sementara di sisi lain, orang-orang menganggap bahwa pelacur berada pada tingkat dasar kehormatan yang dimiliki manusia.
Di dalam Film JSP juga terdapat adegan kalau tokoh utama (Jamila) sama sekali tidak merasa malu dan rendah hati menjadi seorang pelacur. Bahkan ia bersikap seperti bangga terhadap profesinya itu.
Penggambaran fisik tokoh utama dari Novel PTN dan Film JSP pun memiliki kesamaan. Seperti yang tercantum dalam kutipan di bawah ini:
“saya menemukan bahwa saya memiliki mata yang hitam, dengan kerlingan yang menarik mata lainnya seperti besi berani, dan bahwa hidung saya bukan besar, bukan pula bulat, tetapi penuh dan haus dengan kepadatan perasaan yang dapat berubah menjadi nafsu. Tubuh saya langsing, paha saya tegang, hidup dengan otot…”
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 78)

KESIMPULAN
Dari beberapa fakta yang dihasilkan melalui pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa: a) Novel PTN dan Film JSP memiliki kesamaan dari segi tema ceritanya, b) alur cerita yang dipaparkan oleh Novel PTN dan Film JSP memiliki kemiripan dari mulai pengenalan konflik, klimaks konflik, serta penyelesaian konfliknya, c) kemiripan lainnya yang sangat jelas terlihat yaitu dari segi perwatakan tokoh di antara kedua karya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
El-Saadawi, Nawal. 2010. Perempuan Di Titik Nol. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Film Jamila dan Presiden, 2009.
Mahayana, Maman S. 2009. Sastra Bandingan: Pintu Masuk Kajian Budaya, Studi Kasus Romeo dan Julia, Sonezaki Shinju, Uda dan Dara. http://www.fib.ui.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=151:sastrabandingan catid=39:artikel-ilmiah&Itemid=122&lang=. Diakses pada tanggal 10 Januari 2012.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Komentar
  1. terry mengatakan:

    numpang baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s