Posisi Perempuan dalam Novel The Woman at Point Zero

Posted: 4 Desember 2012 in Kuliah, sastra
Tag:, , , , ,

Novel The Woman at Point Zero (Perempuan Di titik Nol) karya Nawal el-Saadawi menceritakan tentang kehidupan Firdaus—seorang perempuan Mesir yang kuat. Kuat dalam artian berani mengatasi rasa takut yang selalu membelenggu kehidupannya.
Dalam Novel ini, paham dekonstruksi yang diterapkan di dalam novelnya adalah ketika ia (pengarang) mampu menjadikan seorang perempuan menjadi sosok yang melawan kekuasaan dari kaum adam. Padahal pandangan yang sudah menjadi konvensi masyarakat pada umumnya menganggap bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah.
Melalui tokoh utama dalam novel ini, pengarang berusaha melawan konvensi-konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat. Perlawanan tersebut ditunjukkan pengarang melalui beberapa konflik yang terjadi di dalam sebuah cerita. Misalkan saja pada peristiwa dimana tokoh utama (seorang pelacur) sangat selektif untuk menentukan teman kencannya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan realita yang ada, dimana seorang pelacur akan dengan mudah menerima laki-laki manapun asalkan dengan tarif yang memuaskan.
Nawal el-Saadawi memberikan asumsi baru bagi para penikmat sastra bahwa perempuanpun mampu menciptakan kondisi dimana mereka berperan sebagai penguasa. Dengan kata lain, faham dekonstruksi feminisme sangat kental terdapat di dalam novel tersebut. Melalui tokoh utamanya pulalah pengarang mengaplikasikan faham Derrida mengenai pertentangannya terhadap teori Saussure yang menganggap hubungan penanda dengan petanda bersifat pasti (Eagleton, 1983:128). Pengarang menganggap bahwa perempuan tidak hanya bermakna seseorang yang lemah dan tidak berdaya, melainkan banyak makna-makna lain yang sifatnya lebih luas. Seperti yang digambarkan pada pernyataan tokoh utama bahwa dia (tokoh utama) tidak pernah percaya akan makhluk yang disebut laki-laki. Seperti ungkapan Derrida bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).
Adapun konflik lain yang menggambarkan paham dekonstruksi adalah ketika pengarang menggambarkan posisi tokoh utama. Seorang pelacur yang dianggap rendah oleh masyarakat, justru harkat mereka dinaikkan oleh pengarang melalui pernyataan:
Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai pelacur saya telah dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan, termasuk saya.
(“Perempuan di Titik Nol” hal. 109)
Melalui tokoh utama yang terdapat di dalam Novel Perempuan di Titik Nol, pengarang berusaha menggambarkan kekuatan seorang perempuan. Dari seorang perempuan pelacur, semua kebusukkan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Mesir dan penguasanya terungkap.
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat melalui segala bentuk konvensinya, dapat menjadi pahlawan yang mampu mengungkap segala kebusukkan terjadi dalam kehidupan masyarakat Mesir dan penguasanya. Artinya, makna yang sudah diwakili sebuah perlambang mengenai suatu hal tidaklah pasti, melainkan masih sangat bergantung dari interpretasi individu-individu tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s