Hukum Timpang Atas-Bawah

Posted: 3 April 2015 in Sentil
Tag:, , ,

mitchell-lawfirm.com

mitchell-lawfirm.com

 

Hukum adalah satu kata yang selalu nge-hits di Negara Indonesia. Bagaimanapun bentuknya, persoalan hukum selalu menjadi topik utama dalam berbagai jenis pemberitaan, baik itu surat kabar, televisi, atau media-media lainnya. Ya wajar saja, hukum Negara kan yang buat manusia dan manusia tidak luput dari salah. Tapi, apa iya mau selalu bersembunyi di balik pernyataan tersebut?

Pembahasan kali ini bukan mengenai terpidana mati Bali Nine, hakim Sarpin, atau belasan tersangka korupsi yang berebut mendaftar mengajukan praperadilan supaya terbebas dari status tersangka. Sebagai rakyat kecil kita tidak usah terlalu asik memikirkan hal-hal besar semacam itu, puyeng. Mendingan bahas hukum yang ada di sekitar kita. Berkaca dari pengalaman menjadi anak kost dan mendengar cerita teman yang juga seorang anak kost di kota pelajar, saya sangat tertarik membahas mengenai “peraturan mematikan mesin kendaraan ketika memasuki gang kecil.”

Di daerah tempat saya nge-kost, pada umumnya tiap pedusunan, dilarang hukumnya menyalakan kendaraan ketika memasuki gang kecil. Peraturan itu sangat jelas tertulis hampir di setiap pintu masuk/keluar gang. Terkadang beberapa diantaranya terdapat pengecualian seperti tukang antar air mineral (bawa galon 19 lt.), tukang pos, atau keadaan lain yang kurang memungkinkan jika harus menuntun motor dalam keadaan mesin mati.

Persoalannya adalah peraturan tersebut tidak jelas teruntuk siapa. Pasalnya saya sering mendapati beberapa warga asli yang tinggal di daerah gang tersebut justru tidak mengindahkan peraturan tersebut. Sontak saya berasumsi bahwa peraturan tersebut dikhususkan bagi penghuni kost saja, termasuk tamu-tamunya. Tapi, muncul pertanyaan selanjutnya dalam kepala saya ketika ada beberapa penghuni kost yang justru nyaman tanpa ada teguran atau cibiran dari warga meskipun tidak mematikan mesin motor saat melewati gang kecil. Ketika saya mencoba untuk melanggar peraturan tersebut, saya diteriaki oleh salah seorang bapak yang tinggal di daerah gang. Keesokan harinya giliran ibu kost saya yang menegur, “Mas, lain kali mesin motornya dimatikan kalau lewat gang,” katanya.

Melihat dari beberapa situasi di atas, saya berasumsi dan asumsi saya ini sepertinya sangat kuat karena berdasar pada pengalaman teman saya juga kalau: satu, peraturan tersebut tidak berlaku bagi keluarga, sanak saudara, kerabat, teman, tetekbengek warga yang memang asli orang situ (maksudnya yang tinggal di sekitar gang); dua, peraturan tersebut juga tidak berlaku bagi penghuni kost (otomatis bukan warga asli situ) yang dianggap keluarga atau sudah sangat akrab dengan warga; tiga, peraturan tersebut semakin keras ketika yang melanggar adalah penghuni kost yang kurang disenangi. Lah kok jadi seperti itu?

Kontrasnya, mereka (para warga sekitaran gang) memaki para pejabat yang seenaknya memainkan hukum seolah-olah si empunya hukum. Tentu ini menjadi persoalan yang ironis ketika ketimpangan hukum yang terjadi di luar garis kekeluargaan dihujat dan dibenci sedemikian rupanya sementara persoalan hukum kecil yang terjadi dilingkungan kita luput dari rasa keadilan. Memang kadar persoalannya berbeda, hukum yang urusan Negara jauh lebih besar dan fatal jika dilanggar, sementara hukum mengenai mematikan mesin motor saat memasuki gang kecil ya sekecil gangnya, sepele.
Persoalan di atas bukan mengenai kadar besar atau kecilnya, hukum ya hukum, yang salah ya salah, yang benar ya benar, mestinya kan begitu. Misalkan kasus lainnya seperti maling motor yang sering kita lihat di televisi, dihajar puluhan orang bahkan sampai dibakar hidup-hidup. Apakah warga yang memukul dan membakar itu tega melakukannya jika yang maling motor adalah sanak saudara mereka? Tentu tidak!

Jika dari hal-hal kecil saja sudah timpang, saya menjamin jika mereka (para warga asli yang tinggal di sekitaran gang) berada pada posisi seperti para menteri, DPR, gubernur, camat, sampai ke tingkat ketua RT pun akan dengan mudah melanggar hukum. Jadi, berlakulah sebagaimana masyarakat yang taat dan menghargai hukum. Hukum yang dibuat manusia memang banyak cacatnya, tapi pelakunya jangan sampai kita!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s