Mengidolakan Dengan Cara Sehat

Posted: 6 April 2015 in Sentil
Tag:, ,

Inspirator, idola, panutan, atau apapun namanya, terkadang sangat ironis, bahkan menuju ke tingkat yang teramat sangat… membahayakan. Terlebih di era modern ini di mana seorang penggemar, penganut, pemuja, dan sebagainya dapat dengan mudah mengikuti segala bentuk informasi terkini dari seseorang yang diidolakannya. Misalkan seorang penggemar bisa selalu tahu aktifitas keseharian idolanya melalui jejaring sosial seperti twitter, facebook, instagram, dan lain sebagainya. Sarana teknologi yang semakin mutakhir tersebut tentu berbalik lurus dengan kecintaannya terhadap idolanya. Simpelnya ya seperti sebuah lirik lagu yang berbunyi tak kenal maka tak sayang (dengan kata lain semakin kenal semakin sayang, meskipun tidak melulu seperti itu).

Permasalahannya, apakah semua yang dilakukan oleh idolanya adalah sesuatu yang bersifat baik? Bagaimana kalau ternyata buruk? (tetap harus digarisbawahi bahwa kita tetap harus memegang teguh bahwa baik atau buruknya bergantung pada situasi). Hal tersebut memunculkan permasalahan lain yang lebih kongkrit jika sudah mengacu pada titik yang biasa kita sebut dengan fanatisme, “baik dan buruk urusan belakangan, yang penting idolaku tetap nomor satu.” Ah, wake up man!

Kita ambil contoh yang paling kongkrit yaitu mengenai presiden Jokowi (wah, berat!). Tenang, saya hanya mengambil garis secara umum, jadi tidak akan mengacu pada segi yang sensitif. Bagi seorang pendukung fanatik Pak Jokowi, keputusan, ucapan, dan tindakan beliau mengenai apapun, akan selalu dinilai benar. Tentunya itu berlaku bagi sebaliknya. Right? Tapi, karena kita adalah makhluk yang diberi kemuliaan atas dasar pemikiran, seharusnya fanatisme yang seperti itu tidak dibenarkan. Kita memang mempunyai hak untuk mengidolakan, memanuti, mangagumi seseorang atau suatu lembaga, tapi tetap harus berdasar pada naluri berpikir kita yang utama, pikiran. Jadi, jika seseorang atau lembaga yang kita panuti terkadang melakukan kesalahan bahkan sering, ya berpikirlah untuk tidak melulu meng-iya-kan segalanya.

Pembaca ada yang merasa fans klub sepak bola Ac Milan? Sebagai salah satu fans Ac Milan, saya selalu membanggakan tim tersebut terlepas dari hasil buruk yang menimpanya (terutama sekarang ini, Ac Milan dalam keadaan yang merisaukan). Tapi, secara naluri sebagai seorang fans berat, saya juga membenci beberapa segi dari Ac Milan, seperti kenapa pemilik klub sangat irit bahkan berkesan pelit dalam membeli pemain, regenerasi pemain muda yang kurang diperhatikan, penghormatan terhadap para mantan pemainnya yang kurang baik, dan keburukan-keburukan lainnya. Artinya, meskipun saya penggemar setia Ac Milan bahkan cinta mati (haha lebay), tapi saya tidak selalu mendewakan tim tersebut. Jadi, jika ada teman atau orang lain yang mengkritik, ya saya terima, memang keadaannya demikian. Karena terkadang kritik itu lebih menyakitkan dari ejekan dalam bentuk apapun.

Waduh, terlalu melebar sepertinya. Saya minta maaf bagi yang tidak mengerti atau tidak tahu menahu soal Ac Milan. Intinya seperti ini, kita boleh saja mengidolakan seseorang atau suatu lembaga sampai ketahap paling ekstrim sekalipun, tapi tetap utamakanlah pemikiran di atas segalanya. Ini juga bukan persoalan “punyaku baik punyamu buruk”, tapi lebih kepada “punyamu baik terkadang buruk, punyaku juga baik tapi terkadang juga buruk”. So, idolakanlah sesuatu dengan sehat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s